"Jalan dakwah hanya satu. Jalan inilah yang dilalui oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat baginda. Demikian juga kita dan para pendokong dakwah, sama-sama melaluinya berpandukan taufik dari Allah s.w.t. Kita dan mereka melaluinya berbekalkan iman, amal, mahabbah (kasih sayang) dan ukhuwwah (persaudaraan). Rasulullah s.a.w. menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatupadukan hati-hati mereka di atas dasar mahabbah dan ukhuwwah. Berpadulah kekuatan iman, kekuatan akidah dan kekuatan kesatuan. Jadilah jamaah mereka jamaah yang ideal sebagai model. Kalimahnya mesti lahir dan dakwahnya pasti menang walaupun ditentang oleh seluruh penghuni muka bumi ini." [Syeikh Mustafa Masyhur]

Followers

Tuesday, December 29, 2009

SELAMAT TINGGAL 2009...

Ada awal, ada akhirnya...
Ada pangkal, ada hujungnya...

Kini...
Telah sampai ke penghujung tahun 2009...

Banyak kenangan yang pahit mahupun manis telah kulalui...

Di Penghujung tahun ini,

ku hanya mampu menatap kembali kehidupanku

Setahun telah berlalu, ku cari refleksi diri, dimana resolusi..

Ah..waktu begitu cepat berlalu…

Seakan tak biarkan ku bernafas lega..

Melawan gejolak asa

Menahan kemelut jiwa

Hingga di penghujung tahun.


O Diri…

Tataplah dirimu…tataplah lakumu

Bercerminlah, lihatlah disana…kau kah yang disana?

Wajah kusut dan bermuram durja

Langkah angkuh dari sekeping jiwa yang ringkih, lemah tak berdaya

Apa yang akan kau banggakan dengan dirimu???

Apa yang akan kau perbuat dengan masa depanmu???


Setahun, dua tahun, tiga tahun, kulalui dengan sia-sia

Sudah berbuat apa saja aku ini

Masa yang begitu berharga

Ku biarkan terbang, lenyap, melayang

Lalu…akan kemana hidupku ini

Airmatapun, habis, kandas tak tersisa

Namun sia-sia, tak ada guna


Sejenak ku terpaku…terdiam, ku pandangi langit kelam

Ku lihat gemerlap bintang, tersenyum menyapa, seakan mengajakku bercanda

Atau mungkin sedang tertawa, menatap diriku yang bodoh

Tapi ku dengar bintang itu berbisik...

"Hey...kemana langkah mu kan kau teruskan?

"jangan biarkan dirimu larut dalam kubangan penyesalan atas kegagalan,

"jangan biarkan dirimu terkubur dalam mimpi yang tak mungkin kau raih”

"bangkitlah..masih ada hari esok, masih ada mentari pagi”

“berdirilah, berlarilah..kejarlah sejuta mimpi lain yang masih menanti”


Ku tunduk, meresapi setiap detik yang kini berlalu

Menikmati setiap tetes darah dari goresan luka kehidupanku

Namun ku tersenyum...ku mengangguk

Ku setuju pada bintang...

Yaa..masih ada secercah harapan

Walau semua masih misteri

Masih ada pagi yang cerah

Tuk menguak awan yang hitam

Pagi..Jemputlah aku dengan masa ku menanti Penuh rindu….


Ya Allah...
Jadikanlah tahun ini yang terbaik bagiku,
Berkatilah kehidupahnku sepanjang tahun ini,
Redhailah terhadap setiap perbuatanku pada tahun ini.

Amiin...

Sunday, December 13, 2009

Muhasabah Diri Akhir Tahun

Wahai manusia !

Aku hairan pada orang yang yakin akan kematian,
Tapi hidup bersuka ria.

Aku hairan pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat,
Tapi asyik mengumpulkan harta.

Aku hairan pada orang yang yakin akan kubur,
Tapi ia masih boleh tertawa terbahak-bahak.

Aku hairan pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat,
Tapi ia menjalani hidupnya dengan bersantai-santai.

Aku hairan pada orang yang yakin akan kehancuran dunia,
Tapi ia masih sibuk mengejarnya.

Aku hairan orang yang mengaku intelektual,
Tapi bodoh dalam soal moral.

Aku hairan pada orang yang bersuci dengan air,
Tapi hatinya masih tetap kotor.

Aku hairan pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain,
Tapi ia tidak sadar sama sekali terhadap cacat yang ada pada dirinya.

Aku hairan pada orang yang yakin bahwa Allah SWT sentiasa mengawasi segala perilakunya,
Tapi ia berbuat durjana.

Aku hairan pada orang yang sedar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu diminta pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya,

Tapi masih berharap belas kasihan daripada orang lain.

Wahai manusia !

Hari demi hari usiamu kian berkurang,
Tapi engkau tidak pernah menyedarinya.
Setiap hari Allah datangkan rezeki kepadamu,
Tapi engkau tidak pernah memujiNya.
Dengan pemberian yang sedikit, engkau tidak pernah mahu berlapang dada.
Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga pernah merasa kenyang.

Wahai manusia !

Setiap hari Allah datangkan rezeki untukmu.
Tapi setiap malam malaikat datang kepadaNya dengan membawa catatan perbuatan jelekmu.
Engkau makan dengan lahap rezekiNya,
Tapi engkau tidak segan-segan pula berbuat durjana kepadaNya.

Wahai Manusia !

Allah kabulkan jika engkau memohon kepadaNya,
KebaikanNya tak putus-putus mengalir untukmu.
Namun sebaliknya, catatan kejelekanmu sampai kepadaNya tiada henti.
Allah adalah pelindung terbaik untukmu,
Tapi engkau hamba terjelek bagiNya.

Wahai Manusia !

Kau raup segala apa yang Allah berikan kepadamu,
Tapi Allah tutupi kejelekan yang kau perbuat secara terang-terangan.
Tidak malukah kalian kepada Allah?

Wahai Manusia !

Engkau melupakan Allah
Tapi engkau ingat pula kepada yang lain.
Kepada manusia engkau merasa takut,
Tapi kepada Allah engkau merasa aman-aman saja.
Pada manusia engkau takut dimarahi,
Tapi pada kemurkaan Allah engkau tak peduli.

Wahai Manusia !

Bersujudlah dan bertaubatlah kepada Allah SWT serta menangislah.
Betapa banyak dosa yang telah kita lakukan selama ini.
Lihatlah, betapa banyak kelalaian yang telah kita lakukan selama ini!

Ya Allah,

Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-Mu yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautan-Mu yang meluap hingga ke seluruh samudera
Aku hanya sepotong rumput di padang-Mu yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung-Mu yang menjulang menyapa langit
Aku hanya selonggok bintang kecil yang redup di samudera langit Mu yang tanpa batas.

Ya Allah,

Hamba yang hina ini menyedari tiada ertinya diri ini di hadapan Mu.
Tiada Engkau sedikitpun memerlukanku,
Tapi hamba ini terus menggantungkan segunung harapan pada Mu.

Ya Allah,

Ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air ini dapat memadamkan api neraka Mu.
Betapa sedar diri ini begitu hina dihadapan-Mu.
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhluk-Mu.
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini,
Hati yang telah dikotori oleh noda ini,
Yang memiliki keinginan setinggi langit,
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu Yang Mulia?

Ya Allah,

Ampunilah aku dan saudara-saudaraku yang telah memberi erti dalam hidupku,
Berikanlah kejayaan dan mudahkanlah urusan mereka,
Mungkin tanpa kami sedari,
Kami pernah melanggar aturan Mu.

Ya Allah,

Ampunilah kami,
Pertemukan kami dalam syurga Mu dalam bingkai kecintaan kepada Mu.

Ya Allah,

Siangku tak selalu dalam iman yang teguh,
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh zikir kepada Mu,
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu,
Atau dalam maksiat kepada Mu.
Ya Tuhanku tutuplah untuk kami dengan sebaik-baiknya penutupan !!!

Ya Allah,

Kami bukanlah hamba Mu yang pantas memasuki syurga firdaus Mu,
Tidak pula kami mampu menanggung akan siksa api neraka Mu,
Berilah hamba Mu ini ampunan, dan hapuskanlah dosa-dosa kami,
Sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun.

Ya Allah,

Dosa-dosa kami seperti butiran pasir dipantai,
Anugerahilah kami ampunan wahai Yang Maha Agung,
Umur kami semakin berkurang setiap hari,
Tapi dosa-dosa kami terus bertambah.
Adakah pintu taubatku masih terbuka?

Ya Allah,

Hamba Mu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu,
Ku akui dosa-dosaku dan memohon ampun kepadaMu,
Ampunilahku Ya Allah,
Kerana hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan,
Bila Engkau campakkan kami, kepada siapa dan kemana kami mesti berharap selain dari Mu?

Ya Allah,

Alangkah indah jika diri ini mampu mengisi hembusan nafas dengan bertasbih,
Sebelum terbitnya fajar sebelum terbenamnya sang mentari.
Alangkah bertuah diri ini jika hingga ke akhir hayat berada dalam zikrullah,
Bibir yang sentiasa basah dengan syahadah menjadi penyudah untuk melangkah ke alam barzah.
Sesungguhnya apa yang lebih bererti bagi insan ini,
Melainkan hanya mengharap limpah RedhaMu...

Ya Allah,

Maafkanku Ya Allah,
Ampunkanlah segala dosa-dosaku,
Maafkanlah segala kesalahan ku,
Bantulah aku Ya Allah,
Tunjukkan aku jalan yang lurus, jalan yang telah Rasul dan para Nabi lalui.
Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik untukku.

Amiin...

Thursday, December 3, 2009

Menerima Hakikat Manusia Akan Disulami Ujian

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM...

Manusia tidak lari dari ditimpa musibah. Oleh kerana hidup manusia pasti akan disulami dengan musibah, maka Allah mengajarkan kita cara menghadap musibah. Banyak hadith dan ayat Quran yang membicarakan mengenai cara menghadapi musibah. Ada tiga peringkat mengenai sikap manusia ketika ditimpa sesuatu musibah.

1. Pada permulaannya, berlaku penolakkan. Di peringkat ini, manusia tidak menerima hakikat bahawa sesuatu telah hilang darinya, sesuatu telah tiada, sesuatu telah menimpa dan sebagainya. Dia akan cuba lari dari hakikat dan masalah. Jika dia cuba lari dari menerima hakikat, jiwanya akan semakin tertekan, hatinya semakin sempit dan fikirannya semakin keliru.

Di dalam Islam, kita perlu jujur menerima hakikat diri kita. Semakin berani kita untuk jujur menerima hakikat diri semakin tenang jiwa kita. Sebab itu di dalam Islam ada konsep muhasabah. Muhasabah bererti menerima kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri. Jika kita tidak dapat menerima hakikat diri kita, maka kita tidak akan dapat membuat perubahan di dalam diri kita.

2. Peringkat kedua, manusia akan mengeluh, marah-marah, mendongkol, menyalahkan orang lain dan yang paling parah ialah apabila menyalahkan takdir. Di peringkat ini, mereka telah menerima hakikat bahawa mereka sedang melalui masa getir, tetapi mendongkol dengan keadaan diri. Sesungguhnya, mengeluh tidak merubah apa-apa. Sikap marah-marah juga tidak merubah apa-apa. Dia akan membuatkan kita semakin tertekan dan terhimpit. Sudahlah ditimpa musibah, hati pula hilang bahagia.

Di dalam Islam, kita ada konsep muraqabah, iaitu rasa sentiasa diawasi oleh Allah. Hari ini jika kita senang, Allah mahu melihat apa yang kita lakukan begitu juga apabila kita susah. Allah akan melihat apa yang akan kita lakukan. Semua, susah dan senang ada nilaian pahala jika kita membuat sesuatu dengan betul. Jika kita rasa sentiasa diawasi Allah, kita akan selalu mencari keredhaannya. Waktu senang kita tidak lupa Allah, waktu susah kita bergantung sepenuhnya denganNya. Akhirnya, senang dan susah tetap tenang dan tetap bahagia.

3. Peringkat ketiga barulah biasanya manusia menerima segala apa ketentuan hidupnya. Barulah tidak marah-marah, tidak mengeluh dan sebagainya. Walaubagaimanapun, jika salah kefahamannya, manusia akan putus asa, hilang harapan, hilang semangat, hilang rasa untuk terus berusaha. Akhirnya, hidupnya semakin murung, semakin tidak ceria dan semakin kusut.

Di dalam Islam, apabila kita telah menerima kita di dalam keadaan susah, ada konsep tawakkal. Tawakkal ialah kita berusaha dan bakinya kita serahkan pada Allah untuk menyempurnakannya. Jika perniagaan kita gagal, kita usahakan terus, ubah sana dan sini, baki serah pada Allah. Jika rumah tangga kita gagal, kita usahakan untuk perbaiki, baki yang diluar kemampuan kita, kita serah pada Allah.

Orang yang ada konsep muhasabah dan tawakkal akan sentiasa positif di dalam hidupnya. Dia akan sentiasa tenang walaupun musibah itu ibarat bukit yang menghempapnya. Sesungguhnya, semua manusia akan diuji dengan musibah, yang membezakan orang beriman atau tidak ialah di hujung ujian.

Jika di hujung ujian dia tetap tidak putus asa, tetap berusaha, tetap tenang, tetap berjuang maka dia adalah pemenang di dalam ujian tersebut.

Saturday, November 28, 2009

Aidil Adha 1430H

Aidiladha adalah satu hari perayaan agung yang membawa bersama mesej dan pengajaran. Antara pengajaran penting Aidil Adha ini adalah kesatuan umat. Walaupun umat Islam terdiri dari berbagai bangsa dan bahasa, warna kulit, budaya dan negara, ia adalah umat yang satu. Umat yang menyembah Tuhan yang satu.

Umat yang mengikut syariat Nabi yang satu iaitu Muhammad s. a. w. Umat yang mengadap satu Kiblat. Sujud kepada Tuhan yang satu. Umat yang bersatu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Umat yang berkumpul di padang Arafah dan Mina untuk melakukan ibadah Haji di tempat yang satu. Sesungguhnya tiada umat lain di atas muka bumi ini yang mempunyai kesatuan dengan berpandukan syariat yang indah seperti ini.

Firman Allah s.w.t dalam surah Ali-Imran, ayat 103:


Bermaksud: "Dan hendaklah kamu berpegang-teguh dengan tali Allah (Agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai".


Sudah sewajarnya kita melahirkan rasa syukur kita kepada Allah s. w. t. dengan melaksanakan konsep ini, iaitu konsep kesatuan. Kita tidak mampu berpecah-belah. Kita tidak mampu membiarkan anasir fanatik terhadap sesuatu fahaman, mazhab atau pendapat, untuk memecah-belahkan kita. Kita tidak boleh membiarkan Syaitan membisikkan di telinga kita bahawa fahaman kita yang baik sedangkan fahaman atau pendapat saudara kita yang lain salah semuanya. Kita perlu bersatu untuk menjadi kuat, kerana denagan kekuatan umatnya sahajalah Islam akan tertegak kukuh di bumi Allah.


Sebenarnya, Aidil Adha juga membawa bersamanya mesej persamaan dan keadilan sejagat. Agama Islam adalah agama yang tidak memandang pada status seseorang, sama ada kaya atau miskin, cantik atau sebaliknya, pandai atau lemah. Semua manusia adalah sama pada pandangan Allah s. w. t. Hanya takwa sahaja yang membezakan antara seseorang dengan yang lain pada pandangan Allah.


Ini telah diingatkan oleh Allah s. w. t. di dalam surah Al-Hujurat, ayat 13:


Bermaksud: "Wahai manusia! Kami telah ciptakan kamu lelaki dan wanita, dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak agar kamu kenal-mengenal antara satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia daripada kalangan kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal".


Konsep kesamaan ini amat penting dalam Islam untuk mengelakkan perpecahan di kalangan umat.Ia terlalu penting sehinggakan Rasulullah s. a. w. mengingatkan umatnya ketika Baginda menyampaikan khutbah wada', atau khutbah perpisahan beliau di bumi Arafah 1400 tahun yang lalu.


Rasulullah bersabda dalam khutbah tersebut yang bermaksud: "Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu adalah satu, dan sesungguhnya asal kamu adalah satu.Ketahuilah bahawa tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab. Dan tiada juga kelebihan bagi orang bukan Arab atas orang Arab. Orang berkulit putih kemerahan juga tidak ada kelebihan atas orang orang yang berkulit hitam, dan begitu juga sebaliknya, kecuali dengan taqwa. Sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa".


Aidiladha juga, mengingatkan kita tentang konsep pengorbanan seorang ayah bersama anaknya dalam melaksanakan perintah Allah s. w. t. Peristiwa Nabi Ibrahim a. s. diuji dengan perintah menyembelih anaknya Nabi Ismail a. s. Peristiwa pengorbanan ini dirakamkan oleh Allah s. w. t. di dalam surah As-Saffat, ayat 102 hingga 109. Antaranya Allah menyatakan:


Maksudnya: Maka tatkala anaknya itu sampai ke peringkat umur yang membolehkan dia berusahabersama-sama dengannya, Nabi ibrahim berkata: "wahai anak kesayanganku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahawa aku akan menyembelehmu; maka fikirkanlah apa pendapat mu. Anaknya Ismail menjawab, wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapati daku dari orang-orang yang sabar".


Dari ayat-ayat tersebut Allah menceritakan, bagaimana keimanan yang tinggi yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim a.s. dapat melaksanakan perintah Allah, sekalipun terpaksa mengorbankan jiwa anak kesayangannya Ismail a.s. Begitu juga kekuatan iman Nabi Ismail a.s. yang sedia menerima perintah sekalipun dirinya sebagai taruhan. Pengorbanan dan kesabaran seperti ini yang sepatutnya diterapkan dalam jiwa kita agar kita berjaya mengharungi segala ujian dan cabaran dalam kehidupan dunia ini, dalam kita melaksanakan segala perintah Allah s.w.t.


Jelasnya pengajaran yang dapat kita jadikan iktibar di sebalik Aidiladha ialah peri pentingnya menjaga kesatuan, perpaduan umah dalam masyarakat di samping kita memahami bahawa manusia itu adalah sama disisi Allah, yang membezakan mereka adalah sifat taqwa yang dimilikinya.

Untuk mencapai perpaduan ini perlu ada pengorbanan yang amat besar dari semua pihak serta kerjasama yang berterusan. Ini tidak akan tercapai melainkan dengan ilmu pengetahun yang mendalam dalam semua bidang kehidupan. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar Walillahil Hamd.


Friday, November 20, 2009

Doa Seorang Pencinta


Ya Rabbi...
Jika cinta adalah ketertawanan
Maka tawanlah aku dengan cinta padaMu
Agar tiada lagi yang dapat menawanku
Selain cinta tulusku padaMu


Ya Rabbi...
Jika rindu adalah rasa sakit
Yang tidak menemukan muaranya
Penuhilah rasa sakitku
Dengan rindu padaMu
Dan jadikanlah kematianku
Sebagai muara pertemuan denganMu


Ya Rabbi...
Hatiku hanya cukup untuk satu cinta
Jika aku tidak mengisinya dengan cinta padaMu
Kemanakah wajahku hendak kusembunyikan dari Mu?

Thursday, November 12, 2009

3 GOLONGAN YANG DILAKNAT

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM...

Hari ini,
Ana terlihat sepotong hadis,
Hadis yang sangat berat...
Maknanyer begitu mendalam...
Bacalah dan hayatilah hadis ini...

Dari Abu Hurairah r.a. katanya, “Bersabda Rasulullah s.a.w.: Tiga macam orang bukan saja tidak akan mendapat layanan dan ampunan dari Allah pada hari kiamat, bahkan akan mendapat siksa yang pedih; iaitu si tua bangka yang berzina, raja atau kepala negara atau penguasa yang pendusta dan fakir yang sombong.” (Muslim)

Huraian:

  • Setiap perbuatan berdosa adalah dikira sebagai maksiat kepada Allah SWT.

  • Orang yang tidak pernah bertaubat daripada dosa yang pernah dilakukannya akan ditimpa laknat daripada Allah dan di akhirat kelak akan mendapat hukumannya.

  • Tiga golongan yang disebutkan di dalam hadith di atas melambangkan tentang besarnya kesalahan dan dosa yang dilakukan memandangkan perkara-perkara tersebut sewajarnya tidak berlaku pada orang-orang yang menggunakan akal fikiran dan benar-benar menyedari hakikat diri mereka.

  • Hanya orang yang keras hati dan mati jiwanya sahaja tidak takut akan kemurkaan Allah SWT dan tanpa mempedulikan kebenaran kewujudan hari pembalasan, mereka sanggup melakukan apa sahaja mengikut hasutan hawa nafsu sekalipun ia jelas perbuatan terkutuk dan terlarang dan sekalipun manusia sekeliling amat membenci dan mengutuknya.
WALLAHUA'LAM...

Monday, November 2, 2009

Sifat Sabar Menurut Cendekiawan Islam

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM...


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

sabar

SABAR adalah satu sifat manusia. Ia bererti menahan dan menanggung diri daripada perkara yang tidak disukai Allah kepada yang disukai atau menahan dan menanggung diri daripada yang disukai nafsu kepada yang disukai Allah. Berpandukan kepada pengertian itu, sabar adalah satu istilah yang mengandungi pelbagai makna dan nama.


Contohnya menahan diri di medan perang disebut berani (as-saja’ah), lawannya bacul (al-jubn), manakala menahan diri daripada suatu keinginan nafsu Arabnya disebut ‘dabtun nafs’ dan lawannya ‘al-batr’.


Sabar adalah senjata terpenting manusia, lebih-lebih lagi diri manusia sentiasa menghadapi pelbagai ujian. Dengan sifat ini membolehkan manusia mengatasi ujian dan mencapai kejayaan.


Banyak nas yang memerintah kita bersifat sabar, antaranya bermaksud: “Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap sedia (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali-Imran:200)


Cendekiawan membahagikan sifat sabar kepada beberapa jenis, iaitu:


1. Sabar terhadap kesusahan dan bala bencana yang menimpa pada manusia biasa, bahkan di kalangan nabi.

Antara yang dirumuskan al-Quran ialah sabar dalam bentuk ini termasuklah bersabar dengan kefakiran atau kelaparan, bersabar terhadap kesakitan, ketika peperangan dan ketakutan, kerana kehilangan wang, kehilangan jiwa dan harta benda.


2. Sabar terhadap keinginan nafsu yang menjadi urusan syaitan. Antaranya sabar atas tarikan dan runtunan nafsu yang rendah dan hina, termasuk bersabar dari menurut perasaan marah.


3. Sabar terhadap kemewahan. Ini termasuk bersabar terhadap kenikmatan orang lain, seperti orang kafir dan golongan taghut yang pada lahirnya nikmat tetapi pada batinnya adalah azab.


4. Sabar terhadap ketaatan yang sememangnya banyak halangan. Nafsu itu tabiatnya liar dan tidak suka kepada pengabdian, malah malas pula untuk melaksanakan amal ketaatan.


Kesabaran ini memerlukan tiga peringkat:

  • Sebelum dapat melaksanakan sesuatu ketaatan, perlulah memperbaiki niat dan ikhlas, sabar daripada riak yang merosakkan dan sabar untuk menguatkan keazaman.
  • Ketika mengerjakan ketaatan, hendaklah sentiasa berjaga dan berwaspada daripada faktor yang boleh melemahkannya.
  • Selepas mengerjakannya hendaklah bersifat sabar daripada melakukan suatu yang membatalkan amal ketaatannya.

5. Sabar terhadap kesusahan berdakwah ke jalan Allah. Dakwah ke jalan Allah adalah suatu usaha mulia dan suci. Ia adalah warisan daripada rasul dan nabi, mempunyai halangan dari musuh kebenaran dan kebaikan.

Harus diingat, dakwah kepada jalan Allah dan agama-Nya sangat bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsu, dengan adat dan tradisi, keseronokan dan kerehatan, pangkat dan kedudukan, bahkan kekayaan dan kekuasaan.


Sumber : Harian Metro

Sunday, October 11, 2009

HAKIKAT TAQWA


Taqwa lahir sebagai kesan logik dari keimanan yang utuh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muroqobatullah; merasa takut terhadap murka dan azab-Nya, dan selalu berharap kepada limpanan kurnia dan keampunan-Nya.

Ulama' mendefinisikan taqwa adalah kemestian supaya Allah tidak melihat kita berada dalam laranga-larangan-Nya dan tidak kehilangan kita dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Sebahagian ulama lain mendefinasikan taqwa dengan mencegah diri dari azab Allah dengan memperbanyakkan amal soleh dan takut kepada-Nya di kala sepi atau terang-terangan.

Perhatian al-Quran terhadap sifat taqwa begitu besar. Perintah dan sokongan untuk melaksanakannya pun banyak kita temui dalam ayat-ayatnya, bahkan bila kita baca al-Quran hampir di setiap halaman pasti kita temui kalimat taqwa.


Para sahabat dan salafus soleh yang memahami tuntunan al-Quran dengan benar, mempunyai perhatian besar terhadap taqwa. Mereka terus mencari hakikatnya. Saling bertanya satu sama lain dan berusaha mendapatkannya. Dalam satu riwayat yang shahih disebutkan bahawa Umar al-Khattab r.a bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa. Ubai r.a menjawab,

“Bukankah anda pernah melalui jalan yang berduri?” “Ya”, jawab Umar. “Apa yang anda lakukan saat itu?” “Aku bersiap-siap dan berjalan dengan berhati-hati”. “Itulah taqwa”.

Berpijak dari jawapan Ubai bin Ka’ab atas pertanyaan Umat bin Khattab tersebut, Sayyid Quthb menukilkan dalam tafsir fi zhilalil quran,

“Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.. jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhwatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak diri-duri lainnya”.

Cukuplah kiranya, keutamaan dan pengaruh taqwa merupakan sumber segala kebaikan di masyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kerosakan, kejahatan dan perbuatan dosa. Bahkan, taqwa merupakan pilar utama dalam pembinaan jiwa dan akhlak seseorang dalam rangka menghadapi fenomena kehidupan. Agar ia bisa membezakan mana yang baik dan mana yang buruk dan agar ia bersabar atas segala ujian dan cubaan. Itulah hakikat taqwa dan itulah pengaruhnya yang sangat menentukan dalam pembentukan peribadi dan jama’ah.

Friday, October 2, 2009

WASIAT TERAKHIR RASULULLAH SAW

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM...

Mengimbau kembali lembaran sirah Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW, Padang Arafah menjadi suatu medan yang terpalit suatu peristiwa yang amat menyentuh hati dan mengharukan bagi manusia yang mempunyai tunjang aqidah muslim. Di sinilah tempatnya Rasulullah SAW menyampaikan amanatnya buat terakhir kalinya. Sebuah khutbah terakhir yang penuh maksud dan sama sekali menyentuh hati para pencinta Kekasih Allah itu.

Rasulullah SAW bertolak dari Mina ke Arafah setelah naiknya mentari 9 Zulhijjah. Sebuah khemah didirikan untuk baginda. Baginda masuk dan berada di dalamnya sehingga waktu Zohor. Kemudian, Rasulullah SAW mengarahkan al-Qaswah, yakni untanya untuk disiapkan. Lalu Rasulullah SAW menaikinya sehingga tiba di Wadi Uranah. Di hadapan Baginda SAW, ribuan sahabat mengelilingi Baginda SAW dengan perasaan yang penuh dengan debaran menanti apakah yang akan disampaikan oleh Baginda SAW.

Baginda SAW pun bangun berdiri dan menyampaikan khutbahnya yang penuh bersejarah itu.

"Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, beristighfar, dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung dengan-Nya daripada kejahatan diri dan keburukan amalan kita. Sesiapa yang Allah berikan hidayat kepadanya, maka tidak ada sesiapa yang boleh menyesatkannya. Sesiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada siapa yang boleh memberi hidayat kepadanya. Aku menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Aku berpesan kepada kamu wahai hamba-hamba Allah supaya bertaqwa kepada Allah dan menggesa kamu supaya mentaati-Nya."

Aku membuka khutbahku ini dengan muqaddimah yang baik. Wahai manusia! Sila dengar apa yang akan kukatakan ini. Aku tidak tahu adakah aku akan dapat bersama kamu semua lagi selepas tahun ini, di tempat ini selamanya.

1. Sesungguhnya darah kamu,harta benda kamu, dan kehormatan diri kamu telah terpelihara (diharamkan) sebagaimana diharamkan hari ini, bulan ini, dan Bandar ini (Makkah dan kawasan sekitarnya).

2. Sesiapa yang memegang amanah, maka dia hendaklah mengembalikan amanah tersebut kepada tuan punyanya.

3. Ingatlah! Segala amalan jahiliyyah telah berada di tapak kakiku (yakni telah dihapuskan).

4. Tuntutan hutang darah di zaman jahiliyyah (sebelum Islam) telah diampunkan. Tuntutan darah pertama yang aku batalkan adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Haris yang telah disusukan oleh Bani Saad kemudian telah dibunuh oleh Huzail.

5. Riba adalah haram dan aku memulainya dengan membatalkan riba yang akan diterima oleh Abbas bin Abdul Mutalib. Sesungguhnya ia dihapuskan keseluruhannya.

6. Wahai manusia! Takutilah Allah SWT dalam urusan yang berkaitan dengan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai amanah daripada Allah SWT dan mereka telah dihalalkan kepada kamu dengan kalimat Allah. Wajib ke atas merea untuk menjaga kehormatan kamu dan menjaga diri daripada melakukan perbuatan buruk, jika mereka lakukannya, maka kamu berhak untuk menghukum mereka tetapi bukanlah dengan pukulan yang mencederakan. Jika isteri-isteri kamu setia dan jujur terhadapmu, maka wajib ke atas kamu menjaga makan-pakai dengan baik.

7. Semua orang mukmin adalah bersaudara. Oleh itu, tidak halal bagi seorang muslim mengambil harta orang lain kecuali setelah mendapat kebenaran daripada tuannya.

8. Jangan kamu kembali menjadi kafir selepas pemergianku, di mana sebahagian daripada kamu memerangi sebahagian yang lain. Aku telah tinggalkan kamu suatu panduan. Jika kamu berpegang teguh dengan ajarannya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya yakni al-Quran dan as-Sunnah.

9. Wahai manusia! Sesungguhnya tiada nabi lagi selepasku dan tiada lagi umat selepas kamu. Maka aku menyeru agar kamu menyembah Allah SWT Tuhan kamu dan menunaikan solat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, serta mengeluarkan zakat hartamu dengan kerelaan. Dan kerjakanlah haji ke Rumah Suci Tuanmu (Kaabah), untuk itu kamu akan masuk syurga Tuhanmu.

10. Tuhan kamu adalah Maha Esa, datuk kamu pula adalah satu, kamu semua berasal daripada Adam dan Adam telah dijadikan daripada tanah. Orang yang paling baik dalam kalangan kamu ialah mereka yang paling bertaqwa terhadap Allah. Tiada kelebihan bagi bangsa Arab berbanding bangsa lain kecuali dengan taqwa.

11. Allah SWT telah menetapkan hak menerima pusaka kepada keluarga si mati. Oleh itu, tidak boleh membuat wasiat kepada penerima pusaka. Sesungguhnya laknat Allah ke atas sesiapa yang mengaku sebagai bapa kepada bukan bapanya yang sebenar, juga laknat daripada para malaikat dan seluruh manusia.

12. Kemudian kamu akan disoal tentang aku. Maka apa yang kamu jawab? Mereke menjawab, “Kami bersaksi bahawa tuan telah menyampaikan dan menyempurnakan risalahmu”. Baginda SAW lalu mengangkat tangannya ke langit dan menurunkannya ke arah orang ramai sambil berkata, “Ya Allah! Saksikanlah”. Baginda SAW mengucapkannya sebanyak tiga kali. Orang yang mengulang kembali ucapan Rasulullah SAW dengan kuatnya di Arafah ialah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf r.a.

Sunday, September 20, 2009

SALAM AIDILFITRI 1430


Buah pauh di tengah bendang
Jadi dagangan di tengah kota
Saudara jauh datang bertandang
Bermaaf-maafan sesama kita


Masak udang dan gulai ketam
Pembasuh mulut kuih keria
Berbunyi mercun berdentum-dentam
Riang gembira di Hari Raya


Sungai disusur sehari-hari
Dalam gelap menangkap ikan
Kami meyusun sepuluh jari
Salah dan silap harap maafkan


Aidilfitri hari kemaafan
Menghapus kesalahan sesama insan
Memupuk perpaduan sesama ehsan
Mengikat tali keakraban


Disisir diandam dengan cekap
Potong rambut pelbagai gaya
Puasa sebulan sudahlah lengkap
Kita menyambut Hari Raya


Adik tersayang segak bergaya
Mengait kuih di atas para
Suasana riang di Hari Raya
Bermaaf-maafan riang gembira



Pantun Lawak Hari Raya dan Pantun Aidilfitri :


Lapar puasa terketar-ketar
Bila berbuka lega rasanya
Kad raya tak sempat nak hantar
Kiriman MMS pun dah kira grand lah ye..!


Anak Dolah makan lepat
Makan lepat sambil melompat
Nak hantar kad raya dah tak sempat
Pakai MMS pun kira ok what?


Lemah lembut tuan puteri
Berkain cindai cantik dipandang
Meriah menyambut Aidilfitri
Sahabat handai datang bertandang


Udara dingin hening pagi
Tabuh bising mulakan hari
Aidilfitri menjelma lagi
Masing-masing pakai berseri




Tanpa mengira miskin kaya
Pangkat kedudukan hamba shaya
Sama-sama menyambut raya
Maaf-maafan dihari bahagia


Aidilfitri hari kemenangan
Kejayaan menempuh halangan
Mengenali erti kesenangan
Bagi mereka yang kekurangan


Aidilfitri hari kemaafan
Menghapus kesalahan sesama insan
Memupuk perpaduan sesama ehsan
Mengikat tali keakrapan


Cincin disarung hati berdebar
Jarinan lembut wajah terhias
Ramadan disambut penuh sabar
Aidilfitri disambut dengan meriah


Saidina Affan menyusun kata
Tutur peri yang aulia
Maaf-bermaafan sesama kita
Di Aidilfitri yang sangat mulia





Wednesday, September 16, 2009

8 AKIBAT MAKSIAT!!!

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM...


Di dalam kitabnya, al-Jawabul Kafi li man sa`ala ‘an adwaa` asy-Syafi, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebut, “Perbuatan maksiat berakibat buruk dan berbahaya bagi kehidupan dunia mahupun akhirat.”

Kemudian beliau menyenaraikan beberapa akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan maksiat. Di sini saya bawakan beberapa di antaranya:

1. Terhalang dari ilmu yang sedang dipelajari.

Kerana ilmu adalah cahaya. Imam Malik pernah berpesan kepada Imam Syafi’e, “Sunguh, aku melihat bahawa ALLAH telah mengurniakan cahaya di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan kelamnya perbuatan maksiat.

Kendati demikian, tidak dinafikan kadang-kadang pelaku maksiat adalah dari kalangan mereka yang terpelajar. Malah saya pernah mendengar satu kes (dari sekian kes yang sering terjadi) yang berlaku di sebuah IPT tempatan, seorang pelajar dibuang dari pengajian kerana terbongkar bahawa dia pernah melakukan zina, malah ‘mengabadikan’ perbuatan tersebut dalam telefon bimbit miliknya! Sedangkan dia adalah penerima anugerah dekan untuk 5 semester berturut-turut! (Subhanallah, Astaghfirullah. Ketika maksiat zina telah berleluasa, itu adalah musibah yang ALLAH timpakan, sebagai peringatan!)

Jadi bagaimana seseorang boleh sebegitu bijak sedangkan dia melakukan maksiat yang berat kepada ALLAH?

Itu hanya kurniaan ALLAH di dunia. Maksiat yang dilakukan tetap menghalang keberkahan ilmu yang dipelajari. Kendati dia memahami dan menghafal setiap bait pelajaran tersebut, namun belum tentu dia mampu untuk mengamalkannya. Di situlah letaknya barakah dalam belajar; kemampuan untuk melaksanakan dan istiqamah atas kebenaran.

Sebelum inipun kita pernah digemparkan dengan fatwa-fatwa menyesatkan yang dikeluarkan oleh PhD holder dalam bidang agama! Antaranya ialah keharusan melacurkan diri akibat desakan hidup, dan juga keharusan meninggalkan solat ketika dalam usaha mengharumkan nama Negara. Sekali lagi, istighfar meniti di bibir…

Di dalam al-Quran, ALLAH pernah menceritakan tentang segolongan bijak pandai yang bangga dengan ilmu yang ada pada mereka sehingga sanggup menolak ajakan para Nabi untuk beriman;

Maka ketika para Rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka (merasa cukup dan kemudian meremehkan ajakan para Rasul), dan mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka mengolok-olokkannya. (surah al-Mukmin; 40:83)

Kerana maksiat menghalang barakah ilmu sampai kepada mereka. Apa yang ada pada mereka hanya semata-mata pengetahuan, sedangkan ilmu yang barakah sepatutnya dapat membawa seseorang takutkan ALLAH;

Diantara hamba-hamba ALLAH yang takut kepada NYA hanyalah para ulama. (surah Fathir; 35:28)

2. Terhalang dari rezeki yang ia usahakan dan sering menemui kesulitan dalam urusan hidup

Rasulullah bersabda;

Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rezeki kerana dosa yang diperbuatnya. (HR Ahmad)

Ia adalah kebalikan dari janji ALLAH terhadap golongan yang bertaqwa;

Barangsiapa bertaqwa kepada ALLAH, maka DIA akan membukakan jalan keluar baginya. Dan DIA memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada ALLAH, nescaya DIA mencukupkan (keperluan)nya. (surah at-Tolaq; 65:2-3).

3. Merasa gundah dan kerisauan hati

Juga mengakibatkan hilangnya kelazatan dalam beribadah, wal ‘iyadzu billah. Walaupun nikmat dunia melimpah di sisinya, namun tidak dapat menghilangkan kegundahan dan kerisauan hati yang diakibatkan oleh maksiat.

Malah baginda Nabi juga pernah menunjukkan hal ini dalam sebuah hadith baginda;

Dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahu ‘anhu, telah berkata, Aku mendatangi Rasulullah, lalu baginda bertanya, “Engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?”

Aku menjawab, “Benar.” Maka baginda bersabda, “Tanya fatwa dari hatimu. Kebaikan ialah perkara yang menenangkan jiwa dan hati kepadanya. Sedang dosa ialah perkara yang menggangu jiwa dan menyempitkan dada, kendati manusia telah memberikan fatwa kepadamu dan terus menfatwakannya kepadamu.” (hadith hasan, riwayat Ahmad dan ad-Darimi).

Tapi tentu hati yang diminta fatwa itu ialah hati yang sentiasa memelihara imannya kepada ALLAH, bukan hati yang telah lama berkarat.

Semoga ALLAH menjauhkan kita dari kegundahan hati akibat perbuatan maksiat ini.

4. Terjadi ketidakharmonisan antara pelaku maksiat dengan orang yang disekitarnya, lebih-lebih dengan orang yang baik-baik.

Ketidakharmonisan tersebut akan semakin menguat sehingga pelaku maksiat akan merasa dirinya terpencil dari lingkungan sekitarannya, dan makin dekat dengan lingkungan syaitan, bahkan akan dimusuhi oleh isteri, anak-anak, kerabat, malah dirinya sendiri. Na’udzubillah.

Seorang salaf berkata: “Dampak buruk dari perbuatan maksiat itu, nampak pada binatang ternaknya, juga pada keluarganya.”

5. Pelaku maksiat akan merasa gelapnya hati

Kerana taqwa dan ketaatan adalah cahaya yang menerangi jiwa, sedang maksiat dan dosa adalah kegelapan yang menambahkan titik hitam dalam hati pelakunya.

Sekali-kali tidak! Bahkan apa-apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (surah al-Muthaffifin; 83:14)

6. Mengakibatkan lemahnya akal dan fizikal

Iman adalah sumber kekuatan orang beriman. Dengan iman, pasukan tentera Islam berjaya menewaskan pasukan kuffar dalam peperangan walaupun kelengkapan pasukan lawan serba lengkap. Lihat saja peperangan Badar dan peperangan lainnya, sama ada yang berlaku pada zaman Rasullulah dan para sahabat, atau yang berlaku pada masa kini. Lihat saja perbezaan ketara antara pasukan Isra`el laknat yang pengecut dengan saudara kita di Palestin. Keberanian mereka dipacu oleh iman dan kerinduan membuak terhadap syahid dan syurga.

Lantas, ketika kita melakukan maksiat, bagaimana mungkin kekuatan dan keberanian itu akan datang, kerana sumbernya telah dicampak dari hati kita.

Semoga ALLAH menetapkan hati kita atas iman dan taqwa.

7. Terhalang dari melakukan ketaatan

Ketika kita menyibukkan diri melakukan maksiat, bagaimana mungkin pada masa yang sama kita melakukan ketaatan. Kerana itu ketika satu maksiat dilakukan, beerti satu ketaatan telah ditinggalkan. Seandainya tiada seksaan atas maksiat tersebut, cukuplah terhalang dari melakukan taat itu dianggap sebagai satu bentuk hukuman dari ALLAH.

8. Hilangnya barakah umur

Pada zaman kini, ramai orang yang akan menyambut ulang tahun kelahiran mereka. Tapi pernahkah kita cuba memikirkan untuk memenuhkan pertambahan umur tersebut dengan amal ibadah. Sungguh rugi andai bertambahnya umur kita adalah seiring dengan pertambahan amal dosa. Di situlah hilangnya barakah umur yang ALLAH kurniakan.

Teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh Dr Khalid di dalam bukunya, ‘Kesaksian Seorang Dokter’, ketika pada satu hari beliau menziarahi sahabatnya yang mengabaikan perintah menunaikan solat untuk menasihatinya, sahabat beliau tersebut menolak dengan keras malah mengatakan bahawa dirinya akan hidup lebih lama, dan akan menunaikan solat ketika umurnya sudah tua. Tahukah anda apa yang berlaku kepada orang tersebut? Dia meninggal dalam satu kemalangan keesokan harinya, setelah 24 jam dari waktu Dr Khalid menemuinya.

Kerana itu, amat penting untuk sedaya upaya mencuba mengisi waktu-waktu kita dengan amal kebajikan, kerana kita tidak pernah tahu akhir dari hidup kita.

*Mudah-mudahan sedikit nukilan ini mampu mencetuskan sebuah kesedaran dalam diri kita, dalam memastikan keredhaan ALLAH dicapai ketika hidup kita di dunia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...