"Jalan dakwah hanya satu. Jalan inilah yang dilalui oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat baginda. Demikian juga kita dan para pendokong dakwah, sama-sama melaluinya berpandukan taufik dari Allah s.w.t. Kita dan mereka melaluinya berbekalkan iman, amal, mahabbah (kasih sayang) dan ukhuwwah (persaudaraan). Rasulullah s.a.w. menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatupadukan hati-hati mereka di atas dasar mahabbah dan ukhuwwah. Berpadulah kekuatan iman, kekuatan akidah dan kekuatan kesatuan. Jadilah jamaah mereka jamaah yang ideal sebagai model. Kalimahnya mesti lahir dan dakwahnya pasti menang walaupun ditentang oleh seluruh penghuni muka bumi ini." [Syeikh Mustafa Masyhur]

Followers

Tuesday, February 1, 2005

Pembahagian Manusia di Akhirat

Di dalam Al Quran, Allah SWT berfirman:

“Setiap yang ada di bumi ini akan binasa dan yang tetap kekal hanyalah Zat Tuhanmu yang Maha Mulia dan Maha Besar.” (QS Ar Rahman 26-27)

“Setiap yang bernyawa akan mengalami mati.” (QS Al Anbiya 35)

“Sesungguhnya kematian yang kamu ingin lari darinya itu sungguh-sungguh akan menemui kamu.”
(QS Al Jumu’ah 8 )

Demikianlah ketiga ayat di atas memberi pengertian kepada kita bahwa dunia ini akan berakhir atau mengalami kiamat. Sebelum dunia ini mengalami kiamat besar yang menjadi akhir dari segalanya, secara berangsur-angsur dunia ini juga mengalami kiamat-kiamat kecil. Misalnya pohon yang tumbang terkena badai, bangunan yang runtuh karena gempa bumi atau makhluk-makhluk Allah yang musnah karena bencana alam.

Begitu juga dengan manusia. Dapat kita saksikan, setiap hari ada manusia yang mati. Ada yang mati karena sakit, ada yang tertabrak kendaraan, bunuh diri, atau terbunuh di medan perang. Dengan berbagai cara manusia menemui kematiannya. Sudah menjadi satu ketentuan Allah bahwa Allah menjadikan sesuatu hal itu dengan sebab-sebab tertentu. Termasuk kematian manusia terjadi dengan bermacam-macam sebab. Kematian manusia yang terjadi dengan bermacam-macam sebab itu termasuk kiamat kecil sebelum terjadinya kiamat besar.

Allah SWT melantik manusia sebagai khalifah atau duta-Nya di dunia ini. Sementara, Allah mentakdirkan dunia ini adalah sebagai negeri yang sementara, negeri tidak kekal bagi manusia. Dan kehidupan manusia di dunia ini mengikuti batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah.

Allah juga mentakdirkan bahwa selain dunia yang hanya sementara ini, ada kehidupan akhirat yang kekal abadi. Manusia bukanlah warganegara tetap di dunia ini, melainkan hanya sebagai duta atau utusan Allah SWT di dunia sebelum akhirnya menjalani kehidupan di negeri akhirat yang kekal abadi. Lebih tepat rasanya jika dikatakan bahwa manusia ini sesungguhnya adalah warganegara akhirat, sebab manusia pada akhirnya nanti akan menuju ke akhirat.

Semua manusia, siapapun juga orangnya, akan menjalani kehidupan akhirat. Suka atau tidak suka kita akan pasti sampai juga ke akhirat. Orang yang senantiasa mengingat akhirat akan pergi ke akhirat, orang yang tidak pernah mengingat akhirat pun juga akan pergi ke akhirat. Oleh karena itu, sewaktu kita saat ini masih mendapatkan amanah sebagai duta atau wakil Allah di dunia, hendaklah kita mengatur diri kita agar selaras dengan peraturan dari Allah SWT. Begitu juga dengan rumah tangga dan masyarakat kita, di dalam bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, politik, kenegaraan dan seluruh aspek kehidupan yang ada. Lebih tepatnya, hendaklah semua aspek kehidupan kita di dunia ini berdasarkan kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Hal-hal yang wajib atau sunat hendaklah dilaksanakan sungguh-sungguh. Begitu juga dengan hal-hal yang haram dan makruh hendaklah kita sungguh-sungguh menjauhinya. Dan hal-hal yang mubah (diperbolehkan) hendaklah dijadikan sebagai ibadah kita kepada Allah SWT dengan memenuhi syarat-syaratnya.

Apabila kita telah berhasil mengatur diri kita, rumah tangga kita, masyarakat kita dan seterusnya mengatur semua aspek kehidupan kita sesuai dengan peraturan yang datang dari Allah SWT, maka itulah yang dikatakan sebagai amal bakti atau amal sholeh. Inilah yang akan kita bawa dan persembahkan di hadapan Allah SWT di akhirat nanti. Inilah yang dikatakan pengabdian diri atau ibadah kita kepada Allah SWT. Konsep ibadah di dalam ajaran Islam adalah sangat luas. Namun tetap, ibadah yang luas itu berpijak pada Rukun Iman dan Rukun Islam.

Apabila setiap usaha atau ikhtiar kita, baik kecil maupun besar dan juga setiap perjuangan kita selaras dengan Al Quran dan Sunnah Nabi, maka itulah yang dikatakan sebagai bekal taqwa. Itulah bekal kita yang paling baik dan teguh untuk menjalani kehidupan di akhirat nanti. Ini bertepatan sekali dengan firman Allah SWT yang artinya :

“Berbekallah, dan sebaik-baik bekal (akhirat) ialah taqwa.” (QS Al Baqarah 197)

Bekal taqwalah yang akan menyelamatkan kita dari terjerumus ke neraka dan menjadi jalan untuk kita masuk ke dalam syurga Allah. Sebab itu hendaklah kita senantiasa menyiapkan bekal sewaktu kita menjadi duta dan wakil Allah SWT di dunia ini. Apa saja yang kita lakukan di dunia ini, marilah kita mengusahakannya menjadi amal ibadah untuk bekal taqwa kita.

Ketika dunia akan dikiamatkan oleh Allah SWT, maka di saat itu sudah tidak ada lagi orang yang beriman. Bahkan tidak ada seorang pun yang menyebut nama Allah. Manusia-manusia yang hidup di zaman itulah yang akan mengalami kiamat besar atau kiamat kubra. Mereka akan terkejut menghadapi peristiwa kiamat yang begitu hebat. Itulah yang disebut sebagai ditiupnya sangkakala yang pertama. Bumi dan seluruh alam semesta ini akan rusak dan musnah.

Kemudian setelah seluruh alam ini hancur binasa, maka sangkakala akan ditiup untuk kedua kalinya. Dengan ditiupnya sangkakala ini, Allah akan menghidupkan kembali seluruh makhluk. Manusia akan bangkit dari kuburnya dalam keadaan tidak berpakaian. Manusia akan dihidupkan kembali dalam keadaan yang sesuai dengan tabiat atau perilaku masing-masing sewaktu hidup di dunia. Artinya, bentuk dan rupa mereka mengikuti seperti apa bentuk kehidupan yang mereka jalani sewaktu di dunia. Seandainya sewaktu hidupnya di dunia seseorang itu di suka menipu, berdusta, berbelit seperti ular, maka ia akan diberi tubuh seperti ular. Jika tabiatnya sewaktu hidup seperti serigala, maka ia akan dibangkitkan dalam bentuk seperti serigala. Jika hidupnya sewaktu di dunia seperti babi, maka ia akan dibangkitkan dalam bentuk seperti babi juga. Begitu juga sekiranya hidup di dunia berperangai seperti anjing, maka ia akan dibangkitkan dalam bentuk anjing.

Setelah itu, seluruh makhluk akan berkumpul di suatu tempat yang dinamakan Padang Mahsyar. Yaitu tempat berhimpunnya seluruh makhluk Allah SWT terutamanya manusia, dimulai dari Nabi Adam a.s hingga manusia terkahir yang belum kita ketahui siapa orangnya. Peristiwa Padang Mahsyar ini merupakan suatu pertemuan raksasa yang belum pernah wujud sebelumnya. Terlalu banyaknya makhluk yang berkumpul menyebabkan keadaan saat itu sangat berdesakan-desakan. Bahkan untuk duduk pun tidak bisa. Manusia di saat itu bagaikan tumpukan korek api yang berada di dalam kotaknya, sangat padat dan rapat. Sementara matahari berada hanya sejengkal di atas kepala manusia. Sudah tentu suasana ini menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan yang luar biasa kepada manusia dan seluruh makhluk Allah SWT.

Walaupun seluruh manusia di waktu itu dalam keadaan tanpa berpakaian, namun masing-masing sudah tidak mempedulikan orang lain lagi karena suasana yang penuh huru-hara dan berbagai kesulitan yang menimpa manusia. Di waktu itu manusia hanya memikirkan diri mereka sendiri karena terlalu khawatir dan takut menghadapi hari akhirat…

Setelah alam ini mengalami kiamat besar maka manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Kemudian seluruh manusia yang begitu banyaknya itu dibariskan oleh Allah dalam 120 barisan untuk menjalani perhitungan dan pembalasan akhirat. Siapa yang beriman layak mendapatkan syurga dan siapa yang kafir dibalas dengan neraka.Mungkin muncul pertanyaan di dalam pikiran kita, di antara 120 barisan itu berapa banyakkah manusia yang mati dalam keadaan beriman? Sebab di dalam Al Quran, Allah SWT menjelaskan:

“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba’ 13)

Sebenarnya, hanya tiga barisan saja di antara sekian banyaknya manusia yang mati dalam keadaan beriman. Sementara 117 barisan yang lain itu adalah terdiri dari orang-orang kafir dan mereka kekal di dalam neraka. Jelaslah bahwa hanya tiga barisan saja yang membawa iman, sementara yang lainnya itu matinya dalam keadaan kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Kemudian di antara tiga barisan yang beriman ini, karena iman manusia tidak sama satu sama lain, maka Allah akan membagi mereka menjadi empat. Jadi di akhirat nanti orang-orang yang beriman terbagi dalam empat golongan, yaitu:

1. Golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ (golongan yang tidak dikenakan hisab atau perhitungan amal)
2. Golongan ‘Ashabul Yamin’ (golongan yang menerima hasil perhitungan amal di tangan kanan)
3. Golongan ‘Ashabus Syimal’ (golongan yang menerima hasil perhitungan amal di tangan kiri)
4. Golongan ‘Ashabul A’raf’ (golongan yang berada di antara syurga dan neraka)

Golongan ‘Bi Ghairi Hisab‘ adalah terdiri dari para Nabi dan Rasul serta Auliya Allah (para wali atau kekasih Allah). Auliya Allah adalah mereka yang memang bersungguh-sungguh menjaga setiap perintah dan larangan dari Allah. Mereka sangat menjaga hal yang wajib serta sunat dan bersungguh-sungguh meninggalkan hal yang haram. Bahkan hal yang makruh pun mereka tinggalkan. Mereka juga orang-orang yang paling sabar dan senantiasa redha terhadap apa saja terjadi kepada mereka. Hati mereka senantiasa berprasangka baik kepada Allah atas apa saja kesulitan yang menimpa mereka.

Selain dari itu, mereka yang termasuk dalam golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ ini adalah para syuhada atau orang-orang yang mati syahid. Mereka adalah orang-orang Muqarrabin yang artinya orang yang terlalu dekat (akrab) dengan Allah SWT karena pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah. Bahkan mereka sanggup mengorbankan nyawa semata-mata untuk mempertahankan agama Allah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka mendapat kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah SWT.

Orang yang sangat sabar juga termasuk dalam golongan ‘Bi Ghairi hisab’. Sabar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Sabar melaksanakan perintah dari Allah
2. Sabar menjauhi larangan dari Allah
3. Sabar menghadapi segala ujian dari Allah

Sabar dalam melaksanakan perintah Allah bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Termasuk sabar dalam melaksanakan perintah Allah adalah sabar mengerjakan shalat, berpuasa, berjuang, dan sebagainya. Semua itu tentu bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Sekiranya kita berhasil sabar dalam melaksanakan perintah dari Allah SWT, maka yang lebih sulit lagi adalah sabar dalam menjauhi larangan dari Allah. Misalnya bersabar dalam menjauhi larangan Allah terhadap maksiat pandangan mata.

Setelah kita bersabar terhadap segala larangan Allah, maka yang lebih sulit lagi bagi kita adalah untuk sabar menerima ujian dari Allah. Kita dituntut untuk bersabar terhadap ujian-ujian dari Allah SWT kepada manusia seperti sakit, kemiskinan, fitnah, kematian anak, isteri, ayah, ibu dan seterusnya. Semua itu adalah ujian yang Allah datangkan kepada manusia untuk menguji manusia, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya di sisi Allah.

Kita selayaknya bersabar dan redha terhadap ujian-ujian tersebut karena ujian yang Allah datangkan kepada kita hakekatnya adalah untuk didikan langsung dari Allah kepada hamba-Nya. Kebanyakan manusia mendapat didikan dari Allah melalui manusia yang lain secara lahiriah. Namun melalui ujian-ujian yang menimpa manusia, sebenarnya manusia sedang mendapat didikan secara langsung dari Allah SWT.

Oleh karena itu, kita sebagai hamba-Nya sepatutnya bersabar dan redha. Sebagaimana yang kita tahu bahwa ujian-ujian yang datang dari Allah, sekiranya kita bersabar, hal itu sebenarnya adalah kasih sayang Allah kepada hambanya. Hal itu merupakan penghapusan dosa dari Allah dan juga merupakan peningkatan derajat dan pangkat yang akan dianugerahkan bagi manusia yang mau menerima didikan secara langsung dari Allah SWT.

Seringkali manusia hanya mengharapkan didikan melalui manusia yang lain seperti dari guru, ustadz, alim ulama dan sebagainya. Kebanyakan manusia memang tidak menginginkan sama sekali untuk mendapatkan didikan langsung dari Allah ini karena tidak dapat bersabar dan redha menghadapinya. Namun harus diingat, seandainya manusia tidak berhasil dalam menerima didikan secara langsung dari Allah, maka janganlah terlalu diharapkan manusia itu berhasil dalam menerima didikan dari manusia yang lain.

Kita mengetahui betapa beratnya ujian yang menimpa para nabi dan rasul. Sebenarnya itulah didikan secara langsung dari Allah kepada mereka. Tidak mengherankan jika iman para nabi dan rasul sedemikian kuatnya sebab mereka menerima didikan atau pimpinan secara langsung dari Allah SWT.

Tentu ini jauh berbeda kebanyakan manusia yang justru tidak senang apabila menerima ujian dari Allah padahal itu merupakan didikan secara langsung dari Allah SWT. Seandainya kita berhasil menghadapi itu semua, maka kita akan termasuk dalam golongan ‘Bi ghairi hisab’ di akhirat kelak.

Kemudian termasuk juga dalam golongan ini juga adalah orang fakir yang sangggup bersabar dengan kefakirannya. Walaupun mereka tidak mempunyai apa-apa pun harta benda di dunia. Apa yang ada pada mereka hanyalah pakaian dipakai. Oleh karena, itu mereka tidak di-hisab di akhirat kelak. Bagaimana mungkin mereka akan di-hisab sementara apa yang ada pada diri mereka hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Selanjutnya yang juga termasuk dalam golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ ini ialah orang ahli makrifat. Yaitu orang yang begitu kenal dengan Allah SWT. Oleh karena itu, hati mereka senantiasa ingat kepada Allah. Hatinya juga setiap saat merasakan kehebatan, kebesaran dan keagungan Allah. Begitu juga, hatinya setiap saat senantiasa merasa rindu kepada Allah SWT.

Apabila kita membandingkan mereka dengan kebanyakan manusia, terasa jauh sekali perbedaannya. Mereka adalah orang yang senantiasa mengingat Allah, sedangkan kita senantiasa lalai dan durhaka kepada Allah. Tentu bukan suatu hal yang mudah untuk dapat senantiasa ingat kepada Allah SWT. Sedangkan dalam ibadah sholat yang diperintahkan oleh Allah untuk mengingat-Nya pun kita tidak selalu dapat mengingat Allah, terlebih lagi di luar sholat, tentu lebih sulit lagi kita dapat senantiasa mengingat Allah. Jelaslah bagi kita bahwa untuk menjadi ahli makrifat atau orang yang benar-benar mengenal Allah SWT bukanlah hal yang mudah. Bahkan ini suatu hal yang sangat susah untuk dicapai oleh kebanyakan manusia yang memang senantiasa lalai terhadap Allah SWT.

Itulah orang-orang yang termasuk di dalam golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ di akhirat kelak. Mari kita menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk dalam golongan ini?

Golongan kedua yaitu golongan ‘Ashabul Yamin’ atau orang-orang yang menerima catatan amal di tangan kanan adalah golongan orang-orang sholeh, Ulil Abrar ataupun golongan Muflihun. Golongan ‘Ashabul Yamin’ adalah orang-orang yang memiliki keimanan sekurang-kurangnya tingkat Iman Ayan. Iman Ayan adalah iman yang telah meresap di dalam hati. Mereka juga adalah orang yang amal kebaikannya melebihi kejahatannya. Golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tetap menjalani hisab atau perhitungan dari Allah SWT. Mereka lebih lambat dalam menempuh titian menuju syurga atau Siratul Mustaqim disebabkan oleh pemeriksaan yang mereka jalani.

Di atas titian Siratul Mustaqim terdapat lima tempat pemeriksaan. Kelima tempat itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita tertahan di kelima tempat pemeriksaan itu? Sedangkan satu hari di akhirat adalah selama seribu tahun di dunia.

Maka tidak mengherankan jika orang-orang Muqarrabin tidak mau ’sekedar’ menjadi orang sholeh. Orang-orang sholeh, walaupun masuk ke syurga, terpaksa di-hisab terlebih dahulu. Tentu hal ini akan menyusahkan mereka. Oleh karena itu, orang-orang Muqarrabin lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah karena orang yang mati syahid langsung dimasukkan oleh Allah ke dalam syurga.

Terpaksa berhenti untuk di-hisab di Siratul Mustaqim adalah merupakan penderitaan dan bagaikan azab bagi golongan Muqarrabin. Di dalam kitab-kitab tasawuf diterangkan bahwa kebaikan yang dibuat oleh orang sholeh masih dianggap bagaikan kejahatan bagi golongan Muqarrabin. Bagi golongan Muqarrabin, sesuatu hal yang halal tetapi akan di-hisab dianggap bagaikan suatu kejahatan.

Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang sholeh, mari kita perhatikan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Al Ghazali. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa orang sholeh itu, dari 24 jam sehari yang diberikan Allah kepadanya, 18 jam di antaranya diisi dengan kebaikan. Hanya 6 jam sisanya saja yang digunakan untuk melakukan hal yang mubah. Tentu saja inipun bukan hal yang mudah.

Adapun golongan yang ketiga yaitu ‘Ashabul Syimal‘ atau golongan yang menerima catatan amal di tangan kiri. Mereka adalah orang-orang mukmin ‘asi atau orang-orang mukmin yang durhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari amal kebaikan yang mereka lakukan. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dahulu, sebelum akhirnya akan dimasukkan juga ke dalam syurga. Mereka dimasukkan ke dalam neraka sebagai pembersihan terhadap dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah selesai menjalani hukuman di neraka, barulah mereka dimasukkan ke dalam syurga.

Sedangkan golongan yang terakhir adalah golongan ‘Ashabul A’raf’ yaitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka selamat dari masuk ke neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke syurga daripada golongan ‘Ashabul yamin’ yang setelah menempuh Siratul Mustaqim tidak ada halangan lagi untuk masuk ke syurga. Sedangkan bagi golongan ‘Ashabul A’raf’, setelah mereka menempuh Siratul Mustaqim mereka masih ditahan untuk dapat masuk ke syurga.

Mereka akan ditahan di ujung Sirotul Mustaqim. Kemudian Allah memerintahkan kepada golongan ‘Ashabul A’raf’ ini untuk meminta satu amal kebajikan kepada para penghuni syurga agar amal kebaikan mereka menjadi lebih berat daripada kejahatan mereka. Barangsiapa yang telah mendapatkan satu amal kebajikan dari penghuni syurga akan diizinkann untuk masuk ke syurga. Maka, mondar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan dari para penghuni syurga.

Setelah sekian lama, akhirnya Allah SWT memasukkan ke dalam hati para penghuni syurga kesediaan untuk menghadiahkan satu amal kebaikan mereka kepada orang-orang dari golongan ‘Ashabul A’raf’. Tetapi anehnya, justru bukan orang yang mempunyai banyak amal kebaikan yang langsung bersedia memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Tetapi orang yang bersedia memberikan amal kebaikannya adalah orang yang hanya mempunyai kelebihan satu amalan kebaikan saja. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman kepada golongan ini:

“Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai kelebihan satu amal kebaikan begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku sehingga dapat masuk ke dalam ke syurga, maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu.”

Maka hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan derajatnya oleh Allah di syurga. Inilah kelebihan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada mereka di akhirat.


Pembagian Manusia di Akhirat (II)

August 30, 2007 by easternearth

people.jpgSetelah alam ini mengalami kiamat besar maka manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Kemudian seluruh manusia yang begitu banyaknya itu dibariskan oleh Allah dalam 120 barisan untuk menjalani perhitungan dan pembalasan akhirat. Siapa yang beriman layak mendapatkan syurga dan siapa yang kafir dibalas dengan neraka.Mungkin muncul pertanyaan di dalam pikiran kita, di antara 120 barisan itu berapa banyakkah manusia yang mati dalam keadaan beriman? Sebab di dalam Al Quran, Allah SWT menjelaskan:

“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba’ 13)

Sebenarnya, hanya tiga barisan saja di antara sekian banyaknya manusia yang mati dalam keadaan beriman. Sementara 117 barisan yang lain itu adalah terdiri dari orang-orang kafir dan mereka kekal di dalam neraka. Jelaslah bahwa hanya tiga barisan saja yang membawa iman, sementara yang lainnya itu matinya dalam keadaan kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Kemudian di antara tiga barisan yang beriman ini, karena iman manusia tidak sama satu sama lain, maka Allah akan membagi mereka menjadi empat. Jadi di akhirat nanti orang-orang yang beriman terbagi dalam empat golongan, yaitu:

1. Golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ (golongan yang tidak dikenakan hisab atau perhitungan amal)
2. Golongan ‘Ashabul Yamin’ (golongan yang menerima hasil perhitungan amal di tangan kanan)
3. Golongan ‘Ashabus Syimal’ (golongan yang menerima hasil perhitungan amal di tangan kiri)
4. Golongan ‘Ashabul A’raf’ (golongan yang berada di antara syurga dan neraka)

Golongan ‘Bi Ghairi Hisab‘ adalah terdiri dari para Nabi dan Rasul serta Auliya Allah (para wali atau kekasih Allah). Auliya Allah adalah mereka yang memang bersungguh-sungguh menjaga setiap perintah dan larangan dari Allah. Mereka sangat menjaga hal yang wajib serta sunat dan bersungguh-sungguh meninggalkan hal yang haram. Bahkan hal yang makruh pun mereka tinggalkan. Mereka juga orang-orang yang paling sabar dan senantiasa redha terhadap apa saja terjadi kepada mereka. Hati mereka senantiasa berprasangka baik kepada Allah atas apa saja kesulitan yang menimpa mereka.

Selain dari itu, mereka yang termasuk dalam golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ ini adalah para syuhada atau orang-orang yang mati syahid. Mereka adalah orang-orang Muqarrabin yang artinya orang yang terlalu dekat (akrab) dengan Allah SWT karena pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah. Bahkan mereka sanggup mengorbankan nyawa semata-mata untuk mempertahankan agama Allah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka mendapat kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah SWT.

Orang yang sangat sabar juga termasuk dalam golongan ‘Bi Ghairi hisab’. Sabar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Sabar melaksanakan perintah dari Allah
2. Sabar menjauhi larangan dari Allah
3. Sabar menghadapi segala ujian dari Allah

Sabar dalam melaksanakan perintah Allah bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Termasuk sabar dalam melaksanakan perintah Allah adalah sabar mengerjakan shalat, berpuasa, berjuang, dan sebagainya. Semua itu tentu bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Sekiranya kita berhasil sabar dalam melaksanakan perintah dari Allah SWT, maka yang lebih sulit lagi adalah sabar dalam menjauhi larangan dari Allah. Misalnya bersabar dalam menjauhi larangan Allah terhadap maksiat pandangan mata.

Setelah kita bersabar terhadap segala larangan Allah, maka yang lebih sulit lagi bagi kita adalah untuk sabar menerima ujian dari Allah. Kita dituntut untuk bersabar terhadap ujian-ujian dari Allah SWT kepada manusia seperti sakit, kemiskinan, fitnah, kematian anak, isteri, ayah, ibu dan seterusnya. Semua itu adalah ujian yang Allah datangkan kepada manusia untuk menguji manusia, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya di sisi Allah.

Kita selayaknya bersabar dan redha terhadap ujian-ujian tersebut karena ujian yang Allah datangkan kepada kita hakekatnya adalah untuk didikan langsung dari Allah kepada hamba-Nya. Kebanyakan manusia mendapat didikan dari Allah melalui manusia yang lain secara lahiriah. Namun melalui ujian-ujian yang menimpa manusia, sebenarnya manusia sedang mendapat didikan secara langsung dari Allah SWT.

catchlight3.jpg

Oleh karena itu, kita sebagai hamba-Nya sepatutnya bersabar dan redha. Sebagaimana yang kita tahu bahwa ujian-ujian yang datang dari Allah, sekiranya kita bersabar, hal itu sebenarnya adalah kasih sayang Allah kepada hambanya. Hal itu merupakan penghapusan dosa dari Allah dan juga merupakan peningkatan derajat dan pangkat yang akan dianugerahkan bagi manusia yang mau menerima didikan secara langsung dari Allah SWT.

Seringkali manusia hanya mengharapkan didikan melalui manusia yang lain seperti dari guru, ustadz, alim ulama dan sebagainya. Kebanyakan manusia memang tidak menginginkan sama sekali untuk mendapatkan didikan langsung dari Allah ini karena tidak dapat bersabar dan redha menghadapinya. Namun harus diingat, seandainya manusia tidak berhasil dalam menerima didikan secara langsung dari Allah, maka janganlah terlalu diharapkan manusia itu berhasil dalam menerima didikan dari manusia yang lain.

Kita mengetahui betapa beratnya ujian yang menimpa para nabi dan rasul. Sebenarnya itulah didikan secara langsung dari Allah kepada mereka. Tidak mengherankan jika iman para nabi dan rasul sedemikian kuatnya sebab mereka menerima didikan atau pimpinan secara langsung dari Allah SWT.

Tentu ini jauh berbeda kebanyakan manusia yang justru tidak senang apabila menerima ujian dari Allah padahal itu merupakan didikan secara langsung dari Allah SWT. Seandainya kita berhasil menghadapi itu semua, maka kita akan termasuk dalam golongan ‘Bi ghairi hisab’ di akhirat kelak.

Kemudian termasuk juga dalam golongan ini juga adalah orang fakir yang sangggup bersabar dengan kefakirannya. Walaupun mereka tidak mempunyai apa-apa pun harta benda di dunia. Apa yang ada pada mereka hanyalah pakaian dipakai. Oleh karena, itu mereka tidak di-hisab di akhirat kelak. Bagaimana mungkin mereka akan di-hisab sementara apa yang ada pada diri mereka hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Selanjutnya yang juga termasuk dalam golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ ini ialah orang ahli makrifat. Yaitu orang yang begitu kenal dengan Allah SWT. Oleh karena itu, hati mereka senantiasa ingat kepada Allah. Hatinya juga setiap saat merasakan kehebatan, kebesaran dan keagungan Allah. Begitu juga, hatinya setiap saat senantiasa merasa rindu kepada Allah SWT.

Apabila kita membandingkan mereka dengan kebanyakan manusia, terasa jauh sekali perbedaannya. Mereka adalah orang yang senantiasa mengingat Allah, sedangkan kita senantiasa lalai dan durhaka kepada Allah. Tentu bukan suatu hal yang mudah untuk dapat senantiasa ingat kepada Allah SWT. Sedangkan dalam ibadah sholat yang diperintahkan oleh Allah untuk mengingat-Nya pun kita tidak selalu dapat mengingat Allah, terlebih lagi di luar sholat, tentu lebih sulit lagi kita dapat senantiasa mengingat Allah. Jelaslah bagi kita bahwa untuk menjadi ahli makrifat atau orang yang benar-benar mengenal Allah SWT bukanlah hal yang mudah. Bahkan ini suatu hal yang sangat susah untuk dicapai oleh kebanyakan manusia yang memang senantiasa lalai terhadap Allah SWT.

Itulah orang-orang yang termasuk di dalam golongan ‘Bi Ghairi Hisab’ di akhirat kelak. Mari kita menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk dalam golongan ini?

enlighten.jpg

Golongan kedua yaitu golongan ‘Ashabul Yamin’ atau orang-orang yang menerima catatan amal di tangan kanan adalah golongan orang-orang sholeh, Ulil Abrar ataupun golongan Muflihun. Golongan ‘Ashabul Yamin’ adalah orang-orang yang memiliki keimanan sekurang-kurangnya tingkat Iman Ayan. Iman Ayan adalah iman yang telah meresap di dalam hati. Mereka juga adalah orang yang amal kebaikannya melebihi kejahatannya. Golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tetap menjalani hisab atau perhitungan dari Allah SWT. Mereka lebih lambat dalam menempuh titian menuju syurga atau Siratul Mustaqim disebabkan oleh pemeriksaan yang mereka jalani.

Di atas titian Siratul Mustaqim terdapat lima tempat pemeriksaan. Kelima tempat itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita tertahan di kelima tempat pemeriksaan itu? Sedangkan satu hari di akhirat adalah selama seribu tahun di dunia.

Maka tidak mengherankan jika orang-orang Muqarrabin tidak mau ’sekedar’ menjadi orang sholeh. Orang-orang sholeh, walaupun masuk ke syurga, terpaksa di-hisab terlebih dahulu. Tentu hal ini akan menyusahkan mereka. Oleh karena itu, orang-orang Muqarrabin lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah karena orang yang mati syahid langsung dimasukkan oleh Allah ke dalam syurga.

Terpaksa berhenti untuk di-hisab di Siratul Mustaqim adalah merupakan penderitaan dan bagaikan azab bagi golongan Muqarrabin. Di dalam kitab-kitab tasawuf diterangkan bahwa kebaikan yang dibuat oleh orang sholeh masih dianggap bagaikan kejahatan bagi golongan Muqarrabin. Bagi golongan Muqarrabin, sesuatu hal yang halal tetapi akan di-hisab dianggap bagaikan suatu kejahatan.

Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang sholeh, mari kita perhatikan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Al Ghazali. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa orang sholeh itu, dari 24 jam sehari yang diberikan Allah kepadanya, 18 jam di antaranya diisi dengan kebaikan. Hanya 6 jam sisanya saja yang digunakan untuk melakukan hal yang mubah. Tentu saja inipun bukan hal yang mudah.

hand.jpg

Adapun golongan yang ketiga yaitu ‘Ashabul Syimal‘ atau golongan yang menerima catatan amal di tangan kiri. Mereka adalah orang-orang mukmin ‘asi atau orang-orang mukmin yang durhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari amal kebaikan yang mereka lakukan. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dahulu, sebelum akhirnya akan dimasukkan juga ke dalam syurga. Mereka dimasukkan ke dalam neraka sebagai pembersihan terhadap dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah selesai menjalani hukuman di neraka, barulah mereka dimasukkan ke dalam syurga.

Sedangkan golongan yang terakhir adalah golongan ‘Ashabul A’raf’ yaitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka selamat dari masuk ke neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke syurga daripada golongan ‘Ashabul yamin’ yang setelah menempuh Siratul Mustaqim tidak ada halangan lagi untuk masuk ke syurga. Sedangkan bagi golongan ‘Ashabul A’raf’, setelah mereka menempuh Siratul Mustaqim mereka masih ditahan untuk dapat masuk ke syurga.

Mereka akan ditahan di ujung Sirotul Mustaqim. Kemudian Allah memerintahkan kepada golongan ‘Ashabul A’raf’ ini untuk meminta satu amal kebajikan kepada para penghuni syurga agar amal kebaikan mereka menjadi lebih berat daripada kejahatan mereka. Barangsiapa yang telah mendapatkan satu amal kebajikan dari penghuni syurga akan diizinkann untuk masuk ke syurga. Maka, mondar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan dari para penghuni syurga.

Setelah sekian lama, akhirnya Allah SWT memasukkan ke dalam hati para penghuni syurga kesediaan untuk menghadiahkan satu amal kebaikan mereka kepada orang-orang dari golongan ‘Ashabul A’raf’. Tetapi anehnya, justru bukan orang yang mempunyai banyak amal kebaikan yang langsung bersedia memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Tetapi orang yang bersedia memberikan amal kebaikannya adalah orang yang hanya mempunyai kelebihan satu amalan kebaikan saja. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman kepada golongan ini:

“Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai kelebihan satu amal kebaikan begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku sehingga dapat masuk ke dalam ke syurga, maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu.”

Maka hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan derajatnya oleh Allah di syurga. Inilah kelebihan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada mereka di akhirat.

Demikianlah uraian tentang peristiwa-peritiwa yang akan kita alami nanti di akhirat. Dari uraian-uraian yang dijelaskan di atas marilah kita mencoba untuk menilai diri kita, kira-kira akan berada di golongan manakah kita? Apakah kita berada di golongan ‘Bi Ghairi hisab‘, ‘Ashabul Yamin‘, ‘Ashabus Syimal‘ atau ‘Ashabul A’raf‘?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...