"Jalan dakwah hanya satu. Jalan inilah yang dilalui oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat baginda. Demikian juga kita dan para pendokong dakwah, sama-sama melaluinya berpandukan taufik dari Allah s.w.t. Kita dan mereka melaluinya berbekalkan iman, amal, mahabbah (kasih sayang) dan ukhuwwah (persaudaraan). Rasulullah s.a.w. menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatupadukan hati-hati mereka di atas dasar mahabbah dan ukhuwwah. Berpadulah kekuatan iman, kekuatan akidah dan kekuatan kesatuan. Jadilah jamaah mereka jamaah yang ideal sebagai model. Kalimahnya mesti lahir dan dakwahnya pasti menang walaupun ditentang oleh seluruh penghuni muka bumi ini." [Syeikh Mustafa Masyhur]

Followers

Monday, August 2, 2004

Hak Seorang Muslim Ke atas Muslim Yang Lain

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
sallam bersabda,

"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, menjawab salam, menjenguk
orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab orang bersin"

(HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 900 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)

Menjawab Salam

Salah satu jawaban salam yang baik adalah sebagaimana hadits berikut, dari
Aisyah radhiyallaHu 'anHa, dia berkata,

"Rasulullah berkata kepadaku, 'Ini jibril datang membacakan salam kepadamu',
Aku berkata, 'Wa 'alaykumus salaamu warahmatullaHi wabarakatuH'" (HR. al
Bukhari dan Muslim, hadits no. 856 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)

Menjenguk Orang Sakit

Hendaknya dalam mengunjungi orang sakit diiringi dengan niat ikhlas dan
tujuan yang baik. Seperti misalnya yang dikunjunginya adalah seorang ulama
atau teman yang shalih, atau mengunjunginya dalam rangka untuk beramar
ma'ruf nahi munkar yang dilakukan dengan lemah lembut atau dengan tujuan
untuk memenuhi hajatnya atau untuk melunasi hutangnya, atau untuk mengetahui
tentang keadaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
sallam,

"Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah atau di jalan Allah, akan
ada yang menyeru kepadanya, 'Engkau telah berlaku mulia dan mulia pula
langkahmu, serta akan kau tempati rumah di Surga'"


(HR. at Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1433, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam MisykaatulMashaabih no. 5015)

Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu 'anHu, berkata

"Apabila Nabi ShallallaHu 'alaiHi wa sallam mengunjungi orang sakit, beliau
berkata, 'Laa ba'sa thaHuurun insyaa Allah (Tidak mengapa semoga sakitmu ini
membuat dosamu bersih)'"

(HR. al Bukhari no. 5656)

Menghantar Jenazah

Memikul jenazah dan mengiringinya termasuk hak-hak mayit atas kaum muslimin.
Para ulama bersepakat bahwa memikul jenazah adalah farhu kifayah. Jika
telah dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban tersebut dari
sebagian yang lainnya.

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim berkata, "Jika ijma' tersebut
terbukti, maka itulah yang benar. Jika tidak ada, maka tidak ada bedanya
antara hukum memikul dan mengiringi jenazah. Zhahirnya bahwa keduanya
adalah fardhu kifayah. WallaHu a'lam"
(Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, hal. 391)

Memenuhi Undangan

Berkaitan dengan hukum menghadiri undangan, Imam al Bukhari meriwayatkan
dalam Shahih-nya (no. 5177), dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, bahwa ia
mengatakan,

"Seburuk-buruknya makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya
saja yang diundang, sedang orang-orang fakir tidak diundang. Barangsiapa
yang tidak memenuhi undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya"


Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan"
(Fathul Baari IX/245).

Menjawab Orang Bersin

Wajib bagi setiap orang yang mendengar bersin (dan mengucapkan
alhamdulillaH) untuk mengucapkan tasymit kepadanya. Rasulullah ShallallaHu
'alaiHi wa sallam bersabda,

"Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka
hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallaH) baginya, namun
jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya"

(HR. Muslim no.2992)

Rujukan:


1. Adab Harian Muslim Teladan, 'Abdul bin 'Abdirrahman as Suhaibani,
Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1425 H/Januari 2005 M.

2. Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin 'Abdir Razzaq,
Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Keempat, Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006 M.

3. Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim,
Putaka at Tazkia, Jakarta, Cetakan Pertama, Rajab 1427 H/Agustus 2006 M.

4. Tarjamah Riyadush Shalihin Jilid 2, Imam an Nawawi, Takhrij : Syaikh
al Albani, Duta Ilmu, Surabaya, Cetakan Kedua, Oktober 2004, Edisi Revisi.


Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar"

(QS. An Nisaa' : 48)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...