"Jalan dakwah hanya satu. Jalan inilah yang dilalui oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat baginda. Demikian juga kita dan para pendokong dakwah, sama-sama melaluinya berpandukan taufik dari Allah s.w.t. Kita dan mereka melaluinya berbekalkan iman, amal, mahabbah (kasih sayang) dan ukhuwwah (persaudaraan). Rasulullah s.a.w. menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatupadukan hati-hati mereka di atas dasar mahabbah dan ukhuwwah. Berpadulah kekuatan iman, kekuatan akidah dan kekuatan kesatuan. Jadilah jamaah mereka jamaah yang ideal sebagai model. Kalimahnya mesti lahir dan dakwahnya pasti menang walaupun ditentang oleh seluruh penghuni muka bumi ini." [Syeikh Mustafa Masyhur]

Followers

Thursday, December 9, 2004

Tazkirah : Antara Dua Cinta

Antara dua cinta, memang sesuatu yang merumitkan kerana kita terpaksa membuat dua pilihan. Membuat pilihan adalah satu perkara yang agak membebankan, tetapi nukilan kali ini tidak akan menyentuh agar kita memilih yang mana satu tetapi kita harus memilih kedua-duanya kerana dengan memilih keduanya kita tidak berada dalam golongan orang-orang yang rugi malah kita akan merasa lebih bahagia dan berjaya.

Antara dua cinta yang ingin disentuh di sini ialah cinta dunia dan cinta akhirat. Kita tidak boleh memilih mana-mana untuk mencintai tetapi kita harus memilih kedua-duanya dan berlaku adil padanya. Tetapi kebanyakan dari kita hari ini telah membuat pilihan untuk mencintai dunia dan melupakan akhirat. Dan ada pula segelintir yang mencintai akhirat dan tidak mempedulikan dunia. Ramai di antara kita mengimpikan rumah besar, kereta besar dan mengejar kemewahan dunia yang sementara. Tak ramai di antara kita yang mengimpikan jannatul firdaus dan taman –taman syurga yang lain yang jauh lebih baik dan kekal.

Cinta dunia hanyalah cinta yang sementara, dunia hanyalah persinggahan untuk menuju ke akhirat. Mengejar cinta dan kemewahan dunia semata tidak akan membawa kita ke mana-mana malahan ia boleh melalaikan kita untuk mencari cinta yang sebenarnya yang lebih kekal abadi. Firman Allah:

“Dan (Ingatlah) hari (ketika) orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan):
Kamu sudah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu sudah bersenang-senang menikmatinya.”
(Surah al-Ahqaf, ayat 20)

Alangkah ruginya memiliki segala kemewahan dunia tetapi setakat dirasa selama 60 tahun saja. Bahkan ketika ditanya berapa lama kamu hidup di dunia? Mereka menjawab tidak lebih daripada setengah hari saja.

Bermimpi untuk memilih rumah anda di syurga dengan amalan yang sederhana dan mudah dilakukan, seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Tidaklah salah seorang kamu mengambil wuduk kemudian memperbaiki wuduknya dan mengerjakan sembahyang dua rakaat melainkan wajib baginya syurga.”
(Hadis riwayat Abu Daud, disahihkan oleh al-Albani)

Monday, November 1, 2004

Iman dan Persoalannya

Iman adalah asas penting yang menjadi landasan tempat berdirinya sebuah pribadi mukmin. Jika kita ibaratkan manusia seperti sebatang pohon, maka iman adalah akar tunjang untuk pohon itu. Jika manusia diibaratkan sebuah rumah, maka iman adalah pondasi rumah itu.

Demikianlah pentingnya faktor iman dalam usaha mewujudkan seorang manusia yang sempurna dan diredhai Allah SWT. Tanpa iman, manusia itu ibarat pohon yang tidak berakar tunjang atau rumah yang tanpa pondasi. Maknanya, seseorang yang tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan kehidupan. Dia pasti gagal. Sekalipun ada ciri-ciri keislaman yang terlihat melalui ibadah lahiriah, tetapi ibadah itu tidak akan berfungsi apa-apa ketika manusia yang tidak memiliki iman berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup. Boleh jadi semakin banyak ibadah, justru semakin cepat gagalnya. Seperti halnya pohon yang tidak kuat berakar tunjang, semakin besar pohon itu maka semakin cepat tumbangnya. Atau ibarat rumah yang didirikan di atas lumpur, semakin besar rumah itu justru semakin cepat robohnya.

Ketika datang ujian kecil pun, orang yang tidak memiliki iman sudah goyang. Apalagi ketika berhadapan dengan ujian-ujian yang besar, akan hanyut dan tenggelamlah dia. Sejarah telah membuktikan hal ini dalam berbagai kisah. Salah satunya adalah kisah seorang ahli ibadah bernama Barsisa yang terkenal dengan ibadahnya yang luar biasa, memiliki banyak pengikut tetapi di akhir hayatnya meninggal dalam keadaan kafir karena ditipu oleh syaitan hanya dengan seteguk arak dan seorang wanita.

Demikianlah, Islam hanya akan dapat tegak dan kuat dalam pribadi kita dan dalam masyarakat karena adanya iman yang kuat. Tanpa iman yang kuat, Islam hanya akan menjadi simbol-simbol lahiriah yang diamalkan hanya sebagai tradisi dan kebiasaan semata-mata. Sebaliknya, dengan iman yang kuat akan lahir pribadi yang benar-benar kuat dan Islami.

Islam adalah amalan lahiriah, iman adalah amalan hati (batin). Kalau iman kuat, amalan Islam pasti kuat. Tetapi kalau sekedar amalan Islam yang yang kuat, belum tentu imannya kuat. Hal ini harus diperhatikan. Jangan sampai kita menjadi orang yang kuat beramal saja tetapi lemah imannya. Sebaliknya, jadilah orang yang kuat beriman dan kuat beramal. Allah menjanjikan berbagai kemuliaan hanya bagi orang-orang yang beriman dan beramal. Firman Allah SWT:

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu semuanya berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh” (QS Al ‘Asr 1-3)

Allah menyebutkan iman terlebih dahulu daripada amal. Hal ini menunjukkan satu syarat, bahwa amalan yang dilandasi oleh iman sajalah yang akan dinilai oleh Allah SWT. Rasulullah juga mengingatkan hal ini dengan sabda baginda :

“Allah tidak melihat kepada rupamu dan hartamu (gambaran lahir) tetapi Dia melihat hati kamu dan amalan kamu” (Riwayat Muslim)

Artinya, sebanyak apapun amalan lahiriah seperti shalat, puasa, menutup aurat, zikir, doa, sedekah, berjuang tidak ada arti apa-apa di sisi Allah jika tidak ada iman yang menjadi amalan batin.

Dapat kita tegaskan sekali lagi bahwa, orang-orang yang beriman sudah tentu akan beramal. Tetapi orang yang beramal belum tentu benar-benar beriman. Sedangkan orang yang tidak beramal sama sekali, tentu lebih lemah imannya atau mungkin tidak memiliki iman sama sekali. Oleh karena itu, Allah sering mengingatkan bahwa amalan yang diterima-Nya hanyalah amalan dari orang-orang yang beriman. Di antara firman-firman Allah yang menunjukkan hal ini adalah:

“Maka siapa saja yang mengerjakan amal soleh, sedang ia beriman, maka usahanya itu tidak akan diabaikan dan sesungguhnya Kami menuliskan amalan itu untuknya” (QS Al Anbiya’ 94)

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah 82)

Berdasarkan ayat-ayat itu, tentunya kita semakin menyadari tentang pentingnya iman itu melebihi amalan-amalan yang lain. Orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau beramal adalah penipu. Tetapi orang yang beramal tapi tidak beriman adalah tertipu. Oleh karena itu marilah kita segera memeriksa hati kita sendiri, sejauh mana kita telah beriman. Bagaimana cara kita memeriksanya? Tentu dengan cara yang sistematik dan ilmiah, bukan sekedar mengira-ngira tanpa panduan. Kita awali dengan mengetahui apa pengertian iman.

Yang pertama, arti iman menurut lughah (bahasa yang digunakan sehari-hari) adalah percaya. Orang yang beriman disebut orang yang percaya. Barangsiapa yang percaya maka dia disebut beriman. Namun tidak ada uraian tentang bagaimana cara dan syarat percaya yang dimaksud.

Yang kedua adalah takrif (pengertian) iman menurut istilah syariat Islam adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yaitu:

“Iman adalah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan dengan jasad (lahiriah)” (Riwayat At Tabrani)

Dari hadits Rasulullah SAW di atas kita mengetahui bahwa iman adalah keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diucapkan dengan mulut (lisan) dan dibuktikan dengan amalan. Secara ringkasnya, orang yang beriman adalah orang yang percaya, mengaku dan mengamalkannya. Tanpa ketiga syarat itu, seseorang belum dikatakan memiliki iman yang sempurna. Bila salah satu dari tiga hal itu tidak ada, maka di dalam Islam seseorang itu akan dimasukkan ke dalam golongan tertentu, yaitu fasik, munafik atau kafir.

Mari kita kaji apa yang terjadi pada orang yang tidak memenuhi ketiga syarat iman tersebut:

1. Seseorang yang beriman dengan ucapan “La ilaha illallah” dan memiliki keyakinan, tetapi tidak beramal atau amalannya tidak sempurna sebagaimana yang seharusnya, dimasukkan ke dalam golongan mukmin yang fasik atau mukmin ‘asi (durhaka). Di akhirat nanti tempat mereka adalah neraka. Bila iman yang dimilikinya itu sah, maka masih ada peluang untuknya ke syurga. Namun, setelah menjalani hukuman di neraka.

2. Seseorang yang memiliki keyakinan tetapi tidak mau mengikrarkan “La ilaha illallah” baik beramal atau tidak, dimasukkan ke dalam golongan kafir. Ada juga pendapat yang memasukkan mereka masuk ke dalam golongan fasik. Tapi menurut pendapat yang lebih kuat, mereka termasuk ke dalam golongan kafir. Bila meninggal mereka tidak boleh dikuburkan di tanah pekuburan Islam, dan di akhirat nanti akan kekal di dalam neraka.

3. Seseorang yang mengucapkan “La ilaha illallah”, kemudian sedikit banyak beramal dengan segala tuntutannya tetapi keyakinannya masih diliputi keragu-raguan digolongkan sebagai orang munafik. Ragu-ragu yang dimaksudkan di sini bukan kepada Allah saja, tetapi bisa juga ragu-ragu kepada rukun Iman yang lain yaitu kepada rasul, malaikat, kitab, hari kiamat atau qadha dan qadar.

Apabila seseorang mengucapkan kalimat tersebut, maka ia menjadi orang Islam. Tetapi belum bisa dikatakan orang yang beriman, walaupun ia mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji. Hal ini diberitahukan oleh Allah SWT melalui firman-Nya:

“Orang Arab Badui itu berkata “Kami telah beriman,” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam)” karena iman itu belum masuk kedalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala amalanmu), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat 14)

Dari ayat itu dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang yang memeluk Islam belum pasti beriman, tetapi orang yang beriman sudah pasti Islam. Islam dapat diketahui melalui amalan-amalan lahir, sedangkan iman adalah amalan hati (batin).

Selanjutnya, kita perlu mengetahui peringkat-peringkat iman. Para ulama telah membagi peringkat iman menjadi lima yaitu:

1. Iman Taqlid
2. Iman Ilmu
3. Iman ‘Ayan
4. Iman Hak
5. Iman Hakikat

1. Iman TaqlidIman taqlid adalah iman ikut-ikutan atau beriman dengan semua rukun iman tetapi hanya ikut-ikutan saja. Pegangan iman dan Islamnya tidak kuat. Seseorang yang hanya sekedar beriman taqlid tidak memiliki alasan yang kuat mengapa ia beriman. Jika ditanya, “Apa buktinya Allah itu ada?” mungkin dia akan menjawab, “Saya mendengar orang-orang mengatakan Allah itu ada, jadi saya juga mengatakan Allah itu ada”. Artinya, keyakinannya bersandar kepada orang lain. Dia tidak memiliki dalil ‘aqli (dalil akal atau logika) maupun dalil naqli (dalil ayat-ayat Al Quran) untuk membuktikan keyakinannya pada enam rukun iman.

Jika kita perhatikan, umat Islam hari ini, baik yang berkedudukan atau tidak, yang miskin atau yang kaya, yang bodoh atau yang bijak, mayoritas masih sekedar beriman taqlid. Sebagian besar umat Islam memeluk agama Islam karena secara kebetulan dilahirkan dari ibu dan bapak yang beragama Islam. Keyakinan kita kepada Allah masih sebatas kebiasaan sejak lahir. Bahkan boleh jadi kita lebih tahu tentang anatomi kuman yang sangat kecil, daripada Allah Yang Maha Besar. Boleh jadi kita lebih mahir tentang bentuk permukaan bumi yang rumit daripada suasana hari kiamat yang sangat dahsyat. Kita yakin dengan teori-teori sains tapi sulit untuk dapat yakin kepada janji-janji Allah yang terkandung dalam Al Quran dan Hadist.

Sifat orang yang beriman taqlid terhadap Islam seperti daun kering yang ditiup angin ke sana ke mari. Orang-orang yang beriman taqlid tidak dapat mengawal keyakinan mereka dari nafsu yang liar, juga tidak sanggup berhadapan dengan ujian. Menurut dalil yang paling jelas, iman taqlid ini dianggap tidak sah. Segala amal ibadah orang yang beriman taqlid akan tertolak dan tidak mendapat pahala di sisi Allah. Sebagaimana yang telah kita ketahui, jika iman seseorang tidak diterima, maka seluruh amalannya juga tidak akan diterima.

Oleh karena itu, jika seseorang mati dalam keadaan beriman taqlid tanpa ada niat di dalam hatinya untuk menuntut ilmu dan memperkuat iman, maka seseorang itu mati sebagai orang kafir dan kekal di dalam Neraka. Tetapi terhadap orang yang lemah akalnya, yang tidak dapat memahami tentang iman walaupun telah belajar sungguh-sungguh, maka Allah memaafkan mereka. Sebagian ulama menyatakan bahwa iman taqlid bagi mereka yang lemah akalnya diperbolehkan, dengan syarat keyakinannya tetap teguh, tidak berubah-ubah.

2. Iman Ilmu

Iman ilmu adalah iman yang sudah berdasarkan kepada ilmu. Inilah iman seorang yang telah mempelajari ilmu tentang Allah, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, hari kiamat dan lain-lain yang diwajibkan untuk mengimaninya. Minimal, ilmu yang harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat berada di peringkat iman ilmu meliputi:

* 20 sifat yang wajib bagi Allah
* 20 sifat yang mustahil bagi Allah
* 1 sifat yang mubah (boleh) bagi Allah
* 4 sifat yang wajib bagi Rasul
* 4 sifat yang mustahil bagi Rasul
* 1 sifat yang boleh bagi Rasul

Semuanya harus berdasarkan dalil-dalil ‘aqli (akal) dan naqli (ayat Al Quran) secara ijmali yaitu secara ringkas tanpa uraian yang terperinci.

Keseluruhan sifat Allah dan Rasul yang berjumlah 50 ini kemudian dipahami dan diyakini dengan sungguh-sungguh. Sifat-sifat inilah yang sebenarnya terkandung di dalam dua kalimat syahadat. Inilah yang dikatakan ‘aqaidul iman atau kesimpulan iman. Jika seseorang telah mempelajarinya, memahami dan menyakininya maka orang ini dikatakan beriman ilmu.

Sifat-sifat orang yang memiliki iman ilmu ialah:

* Keimanannya telah memiliki dasar dan berakar kuat pada akalnya.
* Iktiqad atau keyakinannya disertai dengan dalil yang kuat dan memiliki pegangan yang kokoh.
* Mereka memiliki pemikiran tauhid yang mantap dan unggul, tidak mudah goyang dan terpengaruh dengan faham atau ideologi buatan manusia
* Walaupun begitu, mereka masih tidak cukup kuat dalam melawan hawa nafsu dan syaitan.
* Mereka masih belum benar-benar merasa takut pada Allah sehingga mudah berbuat durhaka kepada Allah
* Mereka mampu memperkatakan Islam tapi masih belum mampu berbuat atau mengamalkannya. Mereka masih belum dapat merasakan takut dengan ayat Allah yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Teramat besar kebencian di sisi Allah, kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As Shaf 2-3)

Jadi, iman ilmu masih belum dapat menyelamatkan seseorang itu dari neraka dan kemurkaan Allah, karena iman ilmu baru sekedar berada di akal dan belum meresap ke dalam hati.

3. Iman Ayan

Iman ayan satu taraf lebih tinggi dari iman ilmu. Iman ayan adalah hasil dari latihan yang bersungguh-sungguh. Dengan kesungguhan inilah seseorang yang beriman ilmu akan meningkat imannya menjadi iman ayan.

Sifat orang-orang yang memiliki iman ayan adalah:

* Imannya berada di hati dan bukan lagi di dalam pikiran sebagaimana orang beriman ilmu.
* Hatinya senantisasa ingat kepada Allah. Dia senantiasa mempunyai hubungan hati dengan Allah. Firman Allah :

“Mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka senantiasa memikirkann tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran 191)

* Ibadahnya khusyuk dan meresap ke hati.
* Senantiasa merasakan kebesaran Allah di mana saja berada dan berserah diri kepada Allah tanpa syak atau keraguan. Firman Allah :

“Sesungguhnya orang yang sebenarnya beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al Hujurat 15)

* Hati sensitif dengan Allah. Apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka. Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, maka bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Tuhan mereka saja mereka bertawakal.” (QS Al Anfal 2)

* Semua perintah Allah, kecil atau besar dipatuhi dan semua larangan Allah baik sesuai atau tidak sesuai nafsunya, ditinggalkan dengan penuh kerelaan. Firman Allah:

“Sesungguhnya jawaban oran-orang beriman, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memberi ketetapan di antara mereka (ialah ucapan), “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An Nur 51)

* Sangat sensitif dengan dosa. Sabda Rasulullah :

“Orang-orang mukmin itu, apabila terbuat sedikit dosa, terasa bagaikan gunung besar yang akan menimpa mereka.” (Riwayat Ibnu Mas’ud)

* Sangat berakhlak dengan Allah dan juga berakhlak dengan manusia.
* Hati senantiasa merasa khusyuk, takut, terasa diawasi oleh Allah dan tidak cinta dunia.
* Sabar berhadapan dengan ujian-ujian hidup.
* Mampu mengamalkan Islam dalam diri, keluarga dan masyarakat.
* Senantiasa mendapat bantuan dan pertolongan dari Allah.
* Mereka tidak lama menjalani perhitungan amal di akhirat dan dimudahkan masuk ke syurga.

Di dalam Al Quran, Allah memuji golongan yang beriman ayan dan menamakan mereka dengan berbagai nama yang baik, diantaranya:

Sholihin (orang-orang yang baik), Ulil Abrar (orang-orang yang berbakti), Muflihun/Al Faizun (orang-orang yang mendapat kemenangan), Ashabul Yamin (orang yang akan menerima catatan dari sebelah kanan di Padang Mahsyar nanti.

4. Iman Haq

Iman haq adalah iman yang sebenar-benarnya. Iman haq adalah peringkat iman yang dicapai setelah peringkat iman ayan. Seseorang yang mencapai iman haq, mata hatinya senantiasa melihat Allah. Artinya, terhadap segala suatu yang dilihatnya, hati dan pikirannya selalu tertuju kepada Allah.

Sifat orang-orang yang memiliki iman haq adalah :

* Senantiasa mengingat Allah tanpa dibuat-buat. Mereka merasakan kehebatan Allah dan merasa takut kepada-Nya setiap saat. Hatinya tidak lalai dalam mengingat Allah dan khusyuk dengan-Nya.
* Hati tidak lagi terkait dengan dunia dan tidak dapat dilalaikan oleh nafsu dan syaitan.
* Cintanya kepada Allah sepenuh hati. Begitu juga kepada kehidupan akhirat.
* Mereka diberi gelar sebagai Muqarrabin oleh Allah, yakni orang-orang yang sangat dekat (karib) dengan Allah.
* Kebaikan orang sholeh itu masih dirasakan bagaikan kejahatan bagi orang-orang Muqarrabin.
* Mereka lah yang dikenal sebagai wali Allah, karena memiliki sifat-sifat istimewa, sebagaiman firman Allah:

“Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus 62)

* Hati mereka dihiasi dengan sifat-sifat mahmudah (sifat terpuji) seperti sifat zuhud, ikhlas, tawadhu, dan lain-lain.
* Mereka senantiasa menunaikan perintah Allah
* Tidak merasa gembira atau besar hati bila dipuji dan tidak merasa hina bila dicaci.
* Bagi mereka kebahagiaan hati lebih utama daripada harta benda dunia.
* Mereka mendapatkan Al Jannatul ‘Ajilah atau syurga yang disegerakan di dunia ini.
* Mereka mencintai akhirat sebagaimana orang lain mencintai dunia. Sehinga mereka dinilai oleh Allah SWT layak untuk mengurus dunia ini. Firman Allah:

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya Bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh.” (QS Al Anbiya’ 105)

5. Iman Hakekat

Iman hakekat ialah peringkat iman yang tertinggi dan paling sempurna. Inilah keimanan yang dimiliki oleh para Rasul, Nabi, Khulafaur Rasyidin dan wali-wali besar atau kekasih-kekasih Allah. Mereka akan ditempatkan Allah di dalam syurga yang paling tinggi. Mereka dimasukkan ke dalam syurga tanpa melalui hisab atau tanpa perhitungan amal.

Dalam 24 jam keseharian mereka, hati mereka asyik dan selalu sibuk dengan Allah. Hati mereka kekal mengingat Allah dalam keadaan tidur maupun terjaga. Setiap perbuatan mereka menjadi ibadah kepada Allah. Ibadah mereka luar biasa, akhlak mereka akhlak terbaik dan termulia. Allah akan menurunkan keberkatan di mana saja mereka berada. Mereka adalah golongan ’super-scale’ akhirat yang hidup di dalam syurga yang maha indah dan maha lezat. Allah menganugerahkan nikmat tersebut untuk membalas cinta dan pengorbanan mereka yang sungguh besar.

Demikianlah uraian tentang iman dan berbagai persoalannya. Setelah kita mengetahui di peringkat mana iman kita, marilah kita berusaha meningkatkannya untuk mencapai peringkat iman yang tinggi yang selamat sejahtera menuju Allah.

Friday, October 22, 2004

WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.

Wahai Ali, bagi orang 'ALIM itu ada 3 tanda2nya:
1) Jujur dalam berkata-kata..
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.

Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda2nya:

1) Merahsiakan ibadahnya.
2) Merahsiakan sedekahnya.
3) Merahsiakan ujian yg menimpanya.

Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda2nya
:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.

Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:

1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah swt

Muhasabah :

Wang RM50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.

45 minit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan bola sepak.

Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya

Saturday, September 25, 2004

KATA-KATA MOTIVASI

Petikan Kata- kata motivasi
(Jadikan panduan dalam mengharungi kehidupan yang mencabar)

"Any one who given the right circumstances and who preseveres can attain his goal"
(Dr.Ismail Mohamad Salleh, Pensayarah UKM)


"Kemahuan itu merupakan perkara penting. Ada bakat pun jika tiada kemahuan dan kesungguhan kita tidak boleh berjaya"
(M.Jegathesan, Olahraga Malaysia 1966)


"Dua orang yang paling gagal dalam hidup, orang yang tidak cekap membuat apa yang disuruh dan orang yang hanya membuat apa yang disuruh"
(Lukman Al Hakim)


"Jika engkau berada di rumah orang, hendaklah menjaga matamu; Jika engkau berada di antara orang ramai, hendaklah jaga lidahmu; Jika engkau berada di dalam sesuatu majlis, hendaklah jaga perangai mu"
(Lukman Al Hakim)

"Ramai orang yang boleh memiliki jam tangan yang tinggi harganya tetapi tidak ramai boleh menetapi masa yang berharga" (Dr. Mahathir Mohamad)


Kata -kata Motivasi oleh Ilmuwan

Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran keras baginya lebih lembut daripada sanjungan merdu seorang penjilat yang berlebih-lebihan.

- Thales -

Setelah menua, Thales ditanya tentang keadaannya. Dia menjawab, “Beginilah, aku mati secara perlahan-lahan.”

Derajat kebaikan seorang hamba yang paling tinggi adalah yang hatinya dapat terpuaskan oleh Tuannya Yang Mahabenar sehingga dia tidak membutuhkan perantara antara dirinya dengan Tuannya itu.

- Pythagoras -

Pythagoras mengundang teman-temannya untuk makan, tetapi ternyata pembantunya melalaikan perintahnya dan tidak menyiapkan makanan. Saat teman-temannya datang, dia tidak panik, malah tertawa. Dia berkata, “Hari ini telah kita dapatkan hal-hal yang lebih mulia daripada alasan pertemuan kita ini, yaitu menahan kemurkaan, menguasai kemarahan, menggenggam kesabaran, dan menghiasi diri dengan kelembutan.”

Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.

- Pythagoras -

Janganlah sekali-sekali engkau mempercayai kasih sayang yang datang tiba-tiba, karena dia akan meninggalkanmu dengan tiba-tiba juga.

- Pythagoras -

Pilih olehmu menjadi pihak yang kalah tapi benar. Dan janganlah sekali-sekali engkau menjadi pemenang tetapi zalim.

- Pythagoras -

Jangan membanggakan apa yang telah engkau lakukan hari ini, sebab engkau tidak akan tahu apa yang akan diberikan hari esok.

- Pythagoras -

Sokrates dicela karena makan terlalu sedikit, maka dia menjawab,”Aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.”

Diceritakan kepada Sokrates, “Penduduk kota menertawaimu.” Dia menjawab, “Semoga tawa mereka itu semakin menyempurnakan diriku.”

Ada seorang raja yang berkata kepada Sokrates,”Apa yang membuatmu tidak mau menghadapku padahal engkau adalah budakku?” Sokrates menjawab,”Jika engkau jujur kepada dirimu, engkau pasti mengerti bahwa aku bukanlah budakmu.” Raja bertanya, “Bagaimana bisa begitu?” Sokrates menjawab, “Pernahkah engkau mengetahui bahwa diriku melakukan sesuatu atas dasar dorongan nafsu dan marah?” Raja menjawab, “Tidak.” Sokrates bertanya lagi, “Pernahkah engkau begitu?” Raja itu menjawab, “Pernah.” Sokrates berkata, “Saya menguasai nafsu dan marah, sementara keduanya menguasaimu. Jadi engkau adalah Budak dari budakku.”

Lalat mencari dan menempel pada tempat-tempat kotor dan menjauhi tempat-tempat yang sehat. Begitu juga orang-orang yang jahat. Mereka mencari kejelekan-kejelekan orang lain lalu menyebarkannya dan menyembunyikan kebaikan-kebaikan orang lain dan tidak mau menyebutkannya.

- Sokrates -

Lidah yang menyebut Allah tidak pantas dipakai untuk menyebut kata-kata nista.

- Sokrates -

Malapetaka menimpa binatang selain manusia karena mereka tidak dapat berbicara, dan menimpa manusia karena mereka terlalu banyak berbicara.

- Sokrates -

Bertutur-katalah yang baik atau lebih baik diam.

- Muhammad (salla-Allahu’alayhi was salaam) -

Jika engkau menginginkan kebaikan, segeralah laksanakan sebelum engkau mampu. Tetapi jika engkau menginginkan kejelekan, segeralah hardik jiwamu karena telah menginginkannya.

- Sokrates -

Siapa orang yang paling rendah derajatnya? Sokrates menjawab, “Orang yang tidak percaya pada siapa pun dan tidak dipercaya oleh siapa pun.” Dan siapakah orang yang paling nista? Sokrates menjawab,”Orang yang dimintai maaf tapi tidak mau memaafkan.”

Jika orang yang tidak tahu tidak berbicara, maka perselisihan pasti hilang.

- Sokrates -

Kesejahteraan memberikan peringatan, bencana memberikan nasihat.

- Sokrates -

Mengapa engkau tidak mengkhwatirkan matamu yang terlalu banyak membaca? Sokrates menjawab,”Jika aku dapat menyelamatkan mata hatiku, maka aku tidak akan mempedulikan sakit mataku.”

Sokrates melihat seseorang sedang memukuli pembantunya dengan penuh kemarahan. Sokrates bertanya pada orang itu,”Mengapa engkau memukulinya? Orang itu menjawab,”Dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar.” Sokrates berkata, “Jika semua orang yang telah engkau perlakukan dengan salah engkau ijinkan untuk menghukum dirimu, pasti engkau akan segera meninggalkan kezaliman ini.”

Orang yang takjub kepada dirinya sendiri, dia melihat di dalam dirinya sesuatu yang lebih indah dari kenyataannya -walaupun sebenarnya dia sangat lemah lalu dia bergembira karenanya.

- Sokrates -

Monday, August 2, 2004

Hak Seorang Muslim Ke atas Muslim Yang Lain

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
sallam bersabda,

"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, menjawab salam, menjenguk
orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab orang bersin"

(HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 900 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)

Menjawab Salam

Salah satu jawaban salam yang baik adalah sebagaimana hadits berikut, dari
Aisyah radhiyallaHu 'anHa, dia berkata,

"Rasulullah berkata kepadaku, 'Ini jibril datang membacakan salam kepadamu',
Aku berkata, 'Wa 'alaykumus salaamu warahmatullaHi wabarakatuH'" (HR. al
Bukhari dan Muslim, hadits no. 856 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)

Menjenguk Orang Sakit

Hendaknya dalam mengunjungi orang sakit diiringi dengan niat ikhlas dan
tujuan yang baik. Seperti misalnya yang dikunjunginya adalah seorang ulama
atau teman yang shalih, atau mengunjunginya dalam rangka untuk beramar
ma'ruf nahi munkar yang dilakukan dengan lemah lembut atau dengan tujuan
untuk memenuhi hajatnya atau untuk melunasi hutangnya, atau untuk mengetahui
tentang keadaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
sallam,

"Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah atau di jalan Allah, akan
ada yang menyeru kepadanya, 'Engkau telah berlaku mulia dan mulia pula
langkahmu, serta akan kau tempati rumah di Surga'"


(HR. at Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1433, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam MisykaatulMashaabih no. 5015)

Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu 'anHu, berkata

"Apabila Nabi ShallallaHu 'alaiHi wa sallam mengunjungi orang sakit, beliau
berkata, 'Laa ba'sa thaHuurun insyaa Allah (Tidak mengapa semoga sakitmu ini
membuat dosamu bersih)'"

(HR. al Bukhari no. 5656)

Menghantar Jenazah

Memikul jenazah dan mengiringinya termasuk hak-hak mayit atas kaum muslimin.
Para ulama bersepakat bahwa memikul jenazah adalah farhu kifayah. Jika
telah dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban tersebut dari
sebagian yang lainnya.

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim berkata, "Jika ijma' tersebut
terbukti, maka itulah yang benar. Jika tidak ada, maka tidak ada bedanya
antara hukum memikul dan mengiringi jenazah. Zhahirnya bahwa keduanya
adalah fardhu kifayah. WallaHu a'lam"
(Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, hal. 391)

Memenuhi Undangan

Berkaitan dengan hukum menghadiri undangan, Imam al Bukhari meriwayatkan
dalam Shahih-nya (no. 5177), dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, bahwa ia
mengatakan,

"Seburuk-buruknya makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya
saja yang diundang, sedang orang-orang fakir tidak diundang. Barangsiapa
yang tidak memenuhi undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya"


Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan"
(Fathul Baari IX/245).

Menjawab Orang Bersin

Wajib bagi setiap orang yang mendengar bersin (dan mengucapkan
alhamdulillaH) untuk mengucapkan tasymit kepadanya. Rasulullah ShallallaHu
'alaiHi wa sallam bersabda,

"Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka
hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallaH) baginya, namun
jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya"

(HR. Muslim no.2992)

Rujukan:


1. Adab Harian Muslim Teladan, 'Abdul bin 'Abdirrahman as Suhaibani,
Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1425 H/Januari 2005 M.

2. Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin 'Abdir Razzaq,
Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Keempat, Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006 M.

3. Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim,
Putaka at Tazkia, Jakarta, Cetakan Pertama, Rajab 1427 H/Agustus 2006 M.

4. Tarjamah Riyadush Shalihin Jilid 2, Imam an Nawawi, Takhrij : Syaikh
al Albani, Duta Ilmu, Surabaya, Cetakan Kedua, Oktober 2004, Edisi Revisi.


Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar"

(QS. An Nisaa' : 48)

Monday, July 5, 2004

5 TANDA HATI KERAS

Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati.

Abu Hurairah r.a. berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya.. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya".

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan

Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud, "Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyuk atau tunduk, dan juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya. Sedangkan Allah S.W.T memberi ingatan yang ertinya, "Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku." (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat
Segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-mata. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah
Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah dilecehkan orang. Tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

5. Tidak belajar dengan Ayat Kauniah
Tidak terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa yang dapat memberi pengajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan seumpamanya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai perkara biasa, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. "Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahawa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pel ajaran?" (Surah At-Taubah, ayat 126)

Wednesday, June 2, 2004

KATA-KATA HIKMAH

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Nabi Muhammad SAW

Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Nabi Muhammad SAW

Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.

Nabi Muhammad SAW

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.

Nabi Muhammad SAW

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.

Imam Al Ghazali

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.

Khalifah ‘Umar

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan.

Ibnu Mas’ud

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.

Khalifah ‘Ali

Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah.

Ibnu Mas’ud

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.

Khalifah ‘Ali

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.

Khalifah ‘Umar

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.

Imam An Nawawi

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.

Khalifah ‘Umar

Dia yang menciptakan mata nyamuk adalah Dzat yang menciptakan matahari.

Bediuzzaman Said Nursi

Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan; dan kegelapan hati, pangkal penderitaan jiwa.

Bediuzzaman Said Nursi

Kebersamaan dalam suatu masyarakat menghasilkan ketenangan dalam segala kegiatan masyarakat itu, sedangkan saling bermusuhan menyebabkan seluruh kegiatan itu mandeg.

Bediuzzaman Said Nursi

Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan.

Bediuzzaman Said Nursi

Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Dan seseoran yang memiliki pikiran yang baik mendapatkan kenikmatan dari hidup.

Bediuzzaman Said Nursi

Wednesday, April 28, 2004

Pertentangan Islam Dan Sekular: Sekular Pasti Tersungkur

Oleh: Prof Dr. Yusuf Abdullah Al-Qardhawi

Dr Yusuf Qardhawi dengan lantang menyerang sekular dan pendokong-pendokongnya. Di bawah adalah petikan dari buku yang mesti dimiliki oleh setiap muslim yang peka dengan dunia sekitarnya.

1. SEKULAR MENENTANG AGAMA
Kami telah menyatakan bahawa Sekular adalah ditolak di dalam Negara Islam secara umumnya dan di Mesir khususnya atas apa-apa penilaian sekalipun khususnya penilaian agama. Apabila kita berhukum dengan agama, iaitu agama yang dianuti oleh majoriti penduduk Negara Islam dan kita menerima hukum Islam, kita akan mendapati Islam menolak secara putus terhadap Sekular. Ini disebabkan Sekular tidak dapat duduk semeja bersama dengan Islam sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah .

Sekular mungkin menerima Islam sebagai satu akidah dalam hati individu tetapi ia tidak dapat menerima akidah Islam sebagai asas bagi kesetiaan ( wala ), penggabungan diri ( intima’ ) dan ia tidak menerima hakikat bahawa di antara tuntutan akidah ialah beriltizam dengan hukum Allah dan RasulNya.

Sekular mungkin menerima Islam sebagai ibadah dan upacara sahaja tetapi amalannya adalah terserah kepada individu dan Negara tidak wajib mengawasi atau mengawal dan memaksa mereka untuk beriltizam dengannya.

Sekular mungkin menerima Islam sebagai satu adab dan akhlak tetapi dalam perkara yang tidak menyentuh aliran masyarakat umum kerana ia meniru Barat. Para pendokong Sekular menganggap prinsip mereka adalah menjadikan acuan Barat sebagai asas dan pegangan yang boleh mengatasi adat dan budaya kita dalam cara makan, berpakaian, perhiasan, tempat tinggal, hubungan lelaki dan wanita serta seumpamanya. Mereka mengenepikan terus ketetapan halal dan haram Allah ke atas individu dan masyarakat Islam.

Perkara yang ditentang oleh Sekular secara terang dan berani ialah masalah syariah yang mengatur hukum bagi kehidupan umat Islam, syariah yang telah menetapkan ciri petunjuk yang selamat daripada penyelewengan kesesatan sama ada dalam urusan kekeluargaan, masyarakat, kenegaraan, hubungan dalaman, luaran dan sewaktu damai ataupun semasa perang yang dinyatakan oleh Fikah Islam dalam pelbagai aliran mazhabnya. Fikah Islam telah meninggalkan untuk kita khazanah perundangan yang banyak yang mana kita tidak perlu mengimpot undang-undang orang lain. Undang-undang orang lain bukannya lahir di negeri kita juga bukannya bersumberkan akidah, nilai dan adat kita. Jelasnya ia tetap asing bagi kita dan terus mengikat pemikiran dan hati kita dengan penjajahan luar yang telah dipaksakan kepada kita tanpa sebarang pilihan dan kehendak daripada diri kita.

Inilah kedudukan undang-undang ciptaan Barat bagi kita. Tetapi golongan Sekular menerimanya dan menolak syariah Allah. Mereka memelihara ‘ anak haram’ dan melupakan anak sendiri.

Sekular mengambil daripada Islam apa yang menepati kehendak nafsunya dan menolak perkara yang bertentangan dengan nafsunya. Beriman dengan sebahagian al-Kitab dan kufur dengan sebahagian yang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh Bani Israel pada zaman dahulu, lantas Allah menyergah mereka dengan celaan yang keras dalam firmannya yang bermaksud : “Sesudah itu maka patutkah kamu hanya percaya kepada sebahagian (dari isi) Kitab Taurat dan mengingkari akan sebahagian yang lain? Maka tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian itu dari antara kamu, selain dari kehinaan ketika hidup di dunia dan pada hari kiamat akan ditolak mereka ke dalam azab seksa yang amat berat dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan apa yang kamu lakukan”.( Al-Baqarah ayat 85 ).

Oleh sebab itulah Sekular mengisytiharkan permusuhan terhadap agama iaitu Islam, yang telah diturunkan oleh Allah sebagai satu sistem yang syumul bagi kehidupan sebagaimana Islam telah mengisytiharkan juga permusuhan terhadapnya kerana Sekular mencabar kekuasaan syariah dalam memimpin masyarakat, mengarah haluannya berdasarkan perintah dan larangan Allah serta berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah kepada RasulNya. Apabila masyarakat tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, tanpa ragu lagi dia akan terjatuh dalam hukum jahiliyyah yang mana Allah telah memberikan amaran keras tentang hal ini kepada RasulNya dan orang-orang yang beriman setelahnya.

Firman Allah bermaksud : “Dan hendaklah engkau menjalankan hukum di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka, dan berjaga-jagalah supaya mereka tidak memesongkanmu dari sesuatu hukum yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu. Kemudian jika mereka berpaling (enggan menerima hukum Allah itu), maka ketahuilah, hanyasanya Allah mahu menyeksa mereka dengan sebab setengah dari dosa-dosa mereka dan sesungguhnya kebanyakan dari umat manusia itu adalah orang-orang yang fasik. Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliah? Padahal kepada orang-orang yang penuh keyakinan, tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih baik dari pada Allah. ( Al Maidah ayat 49-50 )

Sekular berdasarkan pandangan agama adalah satu seruan yang ditolak kerana ia adalah seruan kepada pemerintahan jahiliyyah yang bererti berhukum dengan undang-undang ciptaan manusia dan bukannya berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah.

Sesungguhnya ia adalah satu seruan yang mencabar pengetahuan Allah dan mempertikaikan syariah dan hukumnya! Seolah-olah ia berkata kepada Allah, Tuhan semesta Alam : “Kami lebih tahu daripada kamu tentang perkara yang baik untuk kami. Undang-undang yang dibawakan oleh orang Barat ke Negara kami pada zaman penjajahan adalah merupakan petunjuk yang terbaik berbanding hukum syariah kamu!”. Maka apakah yang dapat kita sifatkan terhadap mereka yang berpegang dengan pendapat ini terhadap Allah dan syariahnya!!.

2. SEKULAR DAN ISLAM

Sekular tidak bersikap berkecuali bila berhadapan dengan Islam dan ia tidak mungkin bersikap berkecuali sebagaimana yang didakwa oleh sebahagian pendokong Sekular berbangsa Arab. Perkara ini bagi Islam juga adalah satu perkara yang mustahil akan berlaku.

Islam menghadapi Sekular dengan segala kesyumulannya yang mencakupi semua sudut kehidupan manusia dari sudut material dan spiritual, individu dan masyarakat kerana Sekular tidak akan menerima kesyumulan ini, maka tidak ada jalan keluar kecuali pertembungan pasti akan berlaku.

Kristian mungkin boleh menerima pembahagian kehidupan manusia kepada dua bahagian iaitu bahagian agama dan satu bahagian lagi untuk Negara ataupun dengan ungkapan Injil sendiri.

“Berikan Kaisar hak Kaisar dan berikan Tuhan hak tuhan!”

Adapun Islam, ia memandang kehidupan adalah satu dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Ia memandang manusia sebagai satu kerangka yang satu dan tidak terpisah. Ia melihat Allah adalah Tuhan bagi kehidupan dan manusia keseluruhannya. Islam tidak akan menerima Kaisar sebagai rakan kongsi bagi Allah kerana langit dan bumi serta segala isinya adalah milik Allah. Segala milik Kaisar adalah semuanya milik Allah!. Dia tidak dibenarkan untuk merompak sebahagian daripada kehidupan dan mengarahkannya jauh daripada petunjuk Allah.

Islam mahu mengarahkan kehidupan seluruhnya mengikut arahan dan hukumnya, juga mencelupkan kehidupan dengan Islam yang merupakan celupan Allah.

Firman Allah yang bermaksud : “(Katakanlah wahai orang-orang yang beriman: Agama Islam, yang kami telah sebati dengannya ialah):) Celupan Allah (yang mencorakkan seluruh kehidupan kami dengan corak Islam) dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah? ( Al Baqarah ayat 138).

Ia memahatkan pada rohnya yang suci iaitu yang bermatlamat rabbaniyyah ( ketuhanan), bertunjangkan akhlak dan berisikan kemanusiaan.

Islam akan menemani manusia dengan arahan dan perundangan dalam menjalani perjalanan kehidupan semenjak dia dilahirkan hinggalah ia mati, bahkan sebelum dia dilahirkan dan selepas dia dimatikan.

Islam tidak redha untuk menjadi perkara tambahan dan bukannya menjadi tiang asas, tidak redha menjadi pinggiran dan bukannya menjadi asas pokok, tidak redha memberikan kepimpinan kepada yang lain lalu dia hanya patuh dan taat sahaja kepadanya!.

Tabiat Islam adalah ia menjadi pemimpin dan bukannya pengikut, menjadi tuan bukannya hamba kerana ia adalah kalimah Allah dan kalimah Allah sahajalah yang tertinggi. Oleh itu dialah yang paling tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya.

Sekular mahukan Islam menjadi pengikutnya, diperintah menurut perintahnya dan dilarang menurut larangannya. Sekular tidak membenarkan Islam untuk mengambil kedudukannya yang tabie, mantiqi (logic ) dan berdasarkan sejarahnya, yang mana dialah yang menyuruh dan melarang, memerintah dan memberikan petunjuk.

Sekular akan senang dan redha dengan Islam sekiranya ia kekal terpencil di tempat lahir dan kematian sahaja, duduk dalam alam darwisy dan pertapaan sahaja juga dalam alam khurafat dan dongengan. Adapun untuk menggerak dan bergerak menghalakan kemudi pemuda, memimpin rakyat, meledakkan kekuatan, menyinarkan akal, mencetuskan semangat, menciptakan pahlawan, mendidik tokoh, menentukan arah perjalanan masyarakat, menurut kebenaran, mendirikan timbangan yang adil dikalangan manusia, memerintahkan dengan makruf kepada mereka, melarang kemungkaran, memerangi penyelewengan dan kerosakkan ….. semuanya ini tidak akan diredhai oleh Sekular sama sekali.

Sekular mahukan Islam untuk berpada dengan satu sudut atau arah dalam sebahagian kehidupan, tidak melebihi dan mengatasinya. Kedudukan inipun sudah merupakan satu sumbangan terbaik Sekular untuknya kerana pada perinsipnya kehidupan seluruhnya adalah untuk Sekular tanpa rakan kongsi mahupun penyaing!



•Islam sewajarnya berpada dengan ceramah agama di radio ataupun televisyen!

•Berpada dengan halaman agama di dalam akhbar yang terbit pada hari Jumaat!

•Berpada dengan beberapa waktu pendidikan Islam dalam sistem pendidikan umum!

•Berpada dengan undang-undang keluarga dalam bidang perundangan!

•Berpada dengan masjid sebagai institusi dalam masyarakat!

•Berpada dengan Kementerian Agama dalam Kabinet Negara!

Islam hendaklah berpada dengan itu semua dan Islam tidak boleh menjeling kepada sudut yang lebih daripada itu. Bahkan Islam hendaklah bersyukur dan terhutang budi dengan Sekular yang memberikan dia ruang untuk menjengukkan kepalanya daripada ruang tingkap tersebut ataupun daripada sudut yang telah ditentukan!.

Islam dengan tabiat asalnya menolak untuk dijadikan sekadar pada satu sudut dalam kehidupan kerana ia adalah penentu arah kehidupan dan penciptanya. Ia menolak untuk dijadikan sekadar sebagai tetamu kepada Sekular sedangkan Islam sebenarnya adalah pemilik rumah!

Dari sini, Islam pasti akan bertembung dengan Sekular. Hal ini pasti akan berlaku dalam banyak ruang kehidupan. Keduanya akan bertembung dalam semua ruang pengajaran yang empat iaitu bidang akidah, ibadah, akhlak dan perundangan.

Saturday, March 27, 2004

USRAH : SEJARAH DAN PERANANNYA

MUQADDIMAH

Ahli-ahli di dalam gerakan Islam tidak dapat tidak perlu diperkukuhkan kecintaan mereka terhadap Islam. Sesudah itu, mereka pasti akan mampu pula untuk dididik dengan cara diberikan kefahaman yang jelas dan benar bagaimana cita-cita Islam dapat diperjuangkan. Sekalipun gerakan Islam tentunya mempunyai penggerak dan pendokong yang ramai, mereka pasti akan terbahagi kepada beberapa lapisan golongan yang tersendiri. Setiap peringkat lapisan yang wujud di dalam gerakan Islam memerlukan sistem pendidikan dan pentarbiyahan yang tersendiri bagi memastikan cita-cita untuk memperjuangkan Islam terus menerus subur dan tidak akan layu selamanya. Salah satu cara tersebut ialah Usrah.


APA ITU USRAH?

Perkataan usrah berasal dari kalimah Arab yang bermakna keluarga. Penggunaan istilah ini pada asalnya sudah tentu merujuk kepada ikatan kekeluargaan yang terjadi sesama manusia samada di dalam hubungan rumahtangga, kabilah, kaum, darah keturunan, suku bangsa atau puak.
Dalam konteks harakiah, usrah bererti satu unit kekeluargaan yang diikat dengan kesatuan akidah (wehdatul aqidah), kesatuan fikrah (wehdatul-fikr) dan kesatuan kesedaran untuk sama-sama saling membantu memperkukuhkan Jama’ah Islam dari pelbagai sudut bagi membolehkan kerja-kerja amal jama’ie dapat dilaksanakan dengan teratur sehinggalah tercapai matlamat yang teragung iaitu tertegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyyah.

Berdasarkan pengertian tersebut, jelaslah bahawa usrah dalam pemahaman kita sebagai anggota jemaah Islam bukanlah merupakan sebuah ikatan yang terbatas setakat hubungan kekeluargaan namun ia melampau sempadan bangsa dan warna kulit. Ia jauh lebih kukuh dari itu kerana ia diikat di atas dasar AKIDAH iaitu ikatan yang diredhai oleh Pencipta langit dan bumi. Allah SWT berfirman :

“..Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).”

(Al-Hujurat : ayat 13)


SEJARAH RINGKAS USRAH

Konsep usrah sebagaimana yang difahami oleh gerakan Islam secara umumnya bermula semenjak Rasulullah SAW mula menyebarkan dakwahnya di bumi Mekah. Rumah salah seorang sahabat yang bernama Arqam bin Abi Arqam digunakan untuk membuat sebarang pertemuan secara sulit dengan kaum muslimin dengan tujuan memberitahu dan membawa wahyu Allah SWT. Namun, setelah Allah SWT memerintahkan supaya Nabi SAW berdakwah secara terang-terangan, kaedah membuat pertemuan secara sulit sudah tidak lagi digunakan kecuali pada ketika yang tertentu.

Namun, secara khususnya aktiviti usrah seperti yang diamalkan oleh kita sekarang bermula apabila Almarhum Hassan Al-Banna mengasaskan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1927 di Mesir beberapa tahun selepas kejatuhan dinasti khilafah Islamiyyah yang terakhir pada di Turki. Beliau mula membina tanzimya yang tersendiri dengan matlamatnya yang begitu jauh untuk mengembalikan semula khilafah Islamiyyah (Sayang.. beliau syahid sebelum melihat cita-citanya tercapai). Asas yang dibina oleh beliau diteruskan oleh pengikut-pengikutnya ke seluruh dunia dan menjadi satu momentum yang menggerakkan arus kebangkita semula Islam di seluruh pelusuk dunia dengan method dan strategi yang berbeza.

APAKAH MATLAMAT USRAH?

Matlamat usrah boleh digariskan seperti :

1) Untuk menghimpunkan ahli-ahli jemaah di dalam kelompok-kelompok kecil di bawah satu pimpinan atau naqib bagi memudahkan penyaluran bahan-bahan pengisian dan tarbiah.

2) Untuk mewujudkan ikatan kekeluargaan Islam di kalangan ahli-ahli sehingga mereka dapat merasakan suatu hubungan dan ikatan secara langsung dengan jemaah dan proses pembentukan diri.

3) Untuk melatih ahli-ahli mengenali dan memahami kaedah bermuamalah dengan pimpinan / nuqaba’ dan bentuk-bentuk muamalah yang betul sesama rakan-rakan perjuangan.

4) Untuk mengenalpasti secara detail dan tepat seluruh persekitaraan yang mengelilingi ahli-ahli usrah seperti kefahaman, kemampuan, kelemahan, iltizam, masalah keluarga, kebajikan, kecenderungan, pemikiran dan sebagainya.

5) Untuk menyalurkan taujihat-taujihat dan thaqafah Islamiah secara kemas dan teratur (berdasarkan manhaj) kepada ahli-ahli usrah.

6) Untuk memudahkan sebarang arahan-arahan penting / segera dan strategi-strategi semasa disalur / diselaras / dikemaskinikan secara selamat dan berkesan.

7) Untuk melahirkan tenaga-tenaga amilin / mujahidin yang mampu melaksanakan tugas-tugas dan program-program jemaah dengan jaya dan berkesan.

8) Untuk menyalurkan masalah-masalah ahli dan menyelesaikan masalah tersebut dengan lebih berkesan.

Para Nuqaba’ dan Naqibat hendaklah memahami dan menghayati sepenuhnya peranan usrah di atas, supaya dapat mengendalikan usrah dengan baik dan menepati tuntutan-tuntutannya, sehingga ahli-ahli usrah dapat merasakan bahawa mereka memperolehi manfaat yang besar daripada usrah dan dapat pula menghayati peranan usrah yang sebenarnya.


ADAB-ADAB USRAH

1. Mengikhlaskan niat hanya kepada Allah

"Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya semua menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untukNya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan solat serta menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang benar."
(Al-Bayyinah : 5)

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :

"Hanya segala amal itu dengan niat dan hanya bagi tiap-tiap seseorang itu apa yang dia niatkan."
(Muttafaq ‘alaih)

2. Meminta izin untuk masuk serta memberi salam sebelum memasuki rumah anggota atau tempat diadakan majlis usrah. Firman Allah Taala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah engkau semua memasuki rumah yang bukan rumah-rumah mu sendiri, sehingga engkau semua meminta izin terlebih dahulu serta mengucapkan kepada ahlinya (orang yang ada di dalam)."
(An-Nur : 27)

3. Datang ke majlis tepat pada waktu yang dijanjikan atau ditetapkan.

Sabda Rasulullah s.a.w.

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tanda orang munafiq itu tiga, iaitu jikalau berkata dia berdusta, jikalau berjanji dia memungkiri dan jikalau di amanahkan dia khianat."

Ia menambah di dalam riwayat Muslim:

"Sekalipun dia berpuasa dan bersembahyang dan mengaku dirinya orang Islam."
(Muttafaq ‘alaih)

4. Datang ke majlis dalam keadaan berwuduk dan memakai pakaian yang sopan, bersih, suci serta sempurna.

Dari Abu Malik Al-Asy’ari r.a. katanya : "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Bersuci itu separuh dari keimanan."
(Muslim)

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi yang bermaksud :

"Dari Usman bin Affan r.a. katanya : "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Barangsiapa yang berwuduk lalu memperbaguskan wuduknya (menyempurnakan sesempurna mungkin) maka keluarlah kesalahan-kesalahannya sehingga keluarganya itu sampai dari bawah kuku-kukunya : "
(Muslim)

5. Jika ada yang tidak dapat hadir kerana uzur syar’ie, hendaklah segera memberitahu kepada naqib atau naqibah

Hal ini bertujuan untuk:

o Melatih dari bertanggungjawab dalam setiap kerja.

o Supaya naqib dan sahabat tidak tertunggu-tunggu.

o Supaya dapat mengelakkan prasangka yang tidak baik.

6. Datang ke majlis dengan persiapan yang telah diamanahkan setelah kita sanggup untuk menunaikannya. Firman Allah s.w.t:

Maksudnya:

"Dan penuhilah perjanjian kerana sesungguhnya perjanjian itu akan ditanya."
(Al-Isra’ : 34)

Perkara ini sangat penting kerana :

o Supaya majlis usrah itu berjalan sebagaimana yang dirancang.

o Berlatih menunaikan amanah yang kecil sebelum diberi amanah yang lebih besar.

o Supaya menjadi pendorong dan contoh kepada sahabat yang kemudian.

Kegagalan kita berbuat demikian dibimbangkan akan menjadi alasan kepada sahabat yang lain untuk tidak membuat persiapan di masa akan datang.

7. Membawa dan menyediakan keperluan-keperluan yang diperlukan di dalam majlis usrah seperti Al-Quran, teks usrah, buku-buku catitan, Al-Mathurat (jika perlu) dan lain-lain yang diperlukan. Ini kerana;

o Supaya majlis usrah berjalan dengan lancar.

o Kegagalan berbuat demikian akan mengganggu sahabat yang dikongsi teksnya.

8. Datang ke majlis dengan hasrat untuk mengukuhkan ukhuwwah dan berkasih sayang kepada Allah.

"Dari Abu Hurairah r.a. katanya : "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah Taala berfirman pada hari Qiamat "Manakah orang-orang yang saling cinta mencintai kerana keagunganKu? Pada hari ini mereka itu akan Aku beri naungan pada hari tiada naungan melainkan naunganKu sendiri."
(Muslim)

9. Berazam untuk mendapatkan ilmu dan kefahaman bagi diamalkan dan disampaikan kepada orang lain… kecuali perkara yang rahsia.

"Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan memudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke syurga."
(Muslim)

10. Duduk dengan bersopan santun

Kerana majlis itu adalah majlis zikrullah dan dihadiri sama ileh para Malaikat.

"Dan tunduklah sayapmu bersikap sopan santunlah terhadap orang mukminin."
(Al-Hijr : 88)

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:

"… dari Abu Hurairah r.a. dan Abu Said r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada suatu kaum pun duduk-duduk sambil berzikir kepada Allah melainkan di kelilingi oleh para Malaikat dan ditutupi oleh kerahmatan serta turunlah kepada mereka itu ketenangan di dalam hati mereka dan Allah mengingatkan mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisinya yakni di sebut-sebutkan hal ehwal mereka itu di kalangan para Malaikat."

11. Mendahului majlis dengan membaca Al-Fatihah dan berselawat kepada Nabi Muhammad s.a.w.

"Dan daripada (Abu Hurairah) dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tiada sesuatu kaum pun yang duduk di suatu majlis yang mereka itu tidak berzikir kepada Allah Taala dalam majlis tadi, juga tidak mengucapkan bacaan selawat kepada Nabi mereka di dalamnya, melainkan atas mereka itu ada kekurangannya. Jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksa mereka dan jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan mengampunkan mereka."

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia mengatakan bahawa hadith ini adalah hadith hasan.

12. Mendengar segala penjelasan, bacaan-bacaan, arahan-arahan dan pengajaran dengan teliti dan tenang sambil cuba memahami, mencatit dan mengingati dengan tepat sebelum disampaikan kepada orang lain.

"Dari Abu Bakrah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir kerana sesungguhnya mudah-mudahan (diharapkan) orang yang disampaikan itu kepadanya lebih hafaz dan lebih faham dari yang menyampaikan."
(Bukhari dan Muslim)

13. Memohon penjelasan atau mengemukakan pertanyaan selepas diberi peluang atau setelah meminta izin naqib atau naqibah.

o Supaya tidak mengganggu perjalanan majlis.

o Supaya ada sikap menghormati naqib atau naqibah.

14. Jangan mencelah ketika naqib atau sahabat sedang memberi penerangan kecuali dalam perkara yang memerlukan teguran yang segera (seperti membetulkan bacaan yang silap). Ini adalah kerana :

o Supaya tidak mengganggu perjalanan majlis.

o Supaya tidak menghilangkan penumpuan anggota usrah yang lain.

o Kadang-kadang naqib atau sahabat yang sedang bercakap akan kehilangan apa yang hendak disampaikan apabila dicelah ketika dia sedang bercakap.

15. Jangan mengangkat suara tinggi lebih dari keperluan pendengar. Ini adalah perkara yang dilarang oleh Allah Taala sebagaimana firmanNya :

"Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara kaldai. "
(Luqman : 19)

16. Jangan banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu bersifat tenang dan serius.

"Dari Anas r.a. katanya: "Nabi s.a.w. mengucapkan sebuah khutbah yang saya tidak pernah mendengar suatu khutbah yang saya tidak pernah mendengar suatu khutbah pun seperti itu kerana amat menakutkan. Beliau s.a.w. bersabda: "Andaikata engkau semua dapat mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya engkau semua dapat mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya engkau semua akan sedikit ketawa dan banyak menangis."

Para sahabat Rasulullah s.a.w. lalu menutupi wajah masing-masing sambil terdengar suara esakkannya.
(Mutaffaq ‘alaih)

17. Jangan banyak bergurau, kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam semua perkara:

Ini adalah kerana:

o Supaya hendaklah bergurau di dalam perkara yang benar sahaja.

o Banyak bergurau akan menjadikan majlis usrah bertukar menjadi majlis jenaka, gurau senda atau gelak ketawa.

o Banyak bergurau akan menjadikan majlis usrah kurang bermanfaat.

Sabda Rasulullah SAW : "Saya bergurau tetapi saya tidak berkata sesuatu kecuali kebenaran."

18. Jangan menghisap rokok di dalam tempat diadakan majlis usrah dan kalau ditinggalkan terus adalah terlebih baik.

Kenapa?

o Supaya tidak mengganggu sahabat-sahabat yang tidak merokok.

19. Jangan mempersoalkan atau mempertikaikan arahan-arahan yang telah diberikan dengan jelas dan menepati syara’:

"Sesungguhnya binasa umat sebelum kamu kerana mereka banyak menyoal (yang tidak berfaedah) dan mereka suka menyalahi Nabi-nabi mereka."
(Mutaffaq ‘alaih)

20. Minta izin dari naqib sebelum keluar dari majlis kerana sesuatu keperluan. Ini adalah kerana.

o Keluar dari majlis tanpa izin adalah perangai orang munafiq.

"Sesungguhnya yang benar-benar orang mu’min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu kerana sesuatu keperluan, berilah izin kepada sesiapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah keampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(An-Nur : 62)

21. Jangan sekali-kali bertengkar kerana ia akan merenggangkan ukhuwwah.

Sebabnya :

o Matlamat usrah ialah untuk memupuk ukhuwwah.

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu.."
(Al-Hujuraat : 10)

Firman Allah Taala lagi yang bermaksud:

"Dan taatilah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantah yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar."
(Al-Anfaal : 46)

22. Sentiasa berusaha di dalam dan di luar majlis usrah untuk mengenali sahabat-sahabat satu usrah.

23. Akhiri majlis dengan membaca Tasbih Kaffarah dan surah Al-‘Ashr secara sedar dan memahami serta menghayati maknanya.

"Dari Abu Barzah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda pada penghabisannya jikalau beliau s.a.w. hendak berdiri dari majlis yang ertinya: "Maha Suci Engkau ya Allah dan saya mengucapkan puji-pujian pada Mu. Saya menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu."

Kemudian ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah! Sesungguhnya Tuhan mengucapkan sesuatu ucapan yang tidak pernah Tuan ucapkan sebelum ini. "Beliau s.a.w. bersabda: "Yang demikian itu adalah sebagai kaffarah (penebus) dari apa saja yakni kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan – yang ada di dalam majlis itu."

Di riwayatkan oleh imam Abu Daud juga diriwayatkan oleh imam Hakim iaitu Abu Abdillah dalam kitab Al-Mustadrak dari riwayat Aisyah r.a. dan ia mengatakan bahawa hadith ini adalah shahih isnadnya.

24. Bersalam dan saling bermaaf-maafan selepas selesai majlis.

Allah Berfirman :
"… dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan (kesalahan) orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat demikian.
(Ali Imran : 134)

Firman Allah s.w.t. lagi:

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpaling dari orang-orang yang bodoh."
(Al-A’raaf : 199)

25. Terus pulang apabila selesai majlis kecuali ada keperluan yang penting. Ini adalah kerana:

o Memberi peluang kepada tuan rumah untuk berkemas.

o Mungkin tuan rumah letih dan hendak segera berehat atau dia ada urusan lain.

26. Merahsiakan setiap perbincangan, maklumat atau arahan yang telah diputuskan tentang sesuatu perkara itu sebagai rahsia atau setiap perkara yang dikirakan tidak patut untuk disebarkan.

Itulah di antara adab-adab usrah yang patut menjadi amalan setiap naqib atau naqibah dan setiap anggota usrah supaya matlamat usrah akan tercapai, Insyaallah.

RUKUN-RUKUN USRAH


Usrah menjadi suatu kelaziman di dalam program tarbiyyah harakah kita ini. Ianya mestilah mempereratkan pertalian aqidah dan menanamkan cinta kepada perjuangan, menanggapkan kebenaran walau apa kesusahan yang dihadapi dan diterima oleh seorang mujahid. Rukun usrah itu ialah tiga perkara ianya mestilah diperkukuhkan, sekukuh-kukuhnya iaitu:

1. Al-Ta’aruf iaitu berkenalan.

2. Al-Tafahum iaitu bersefahaman

3. Al-Takaaful iaitu saling bantu membantu.


Rukun Pertama:

Iaitu Al-Ta’aruf ertinya berkenalan secara paling mendalam yang menimbulkan kasih sayang dengan tujuan Al-Hubbufillah. Sebagaimana firman Allah Taala:

Maksudnya:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…"

Dan Sabda Rasulullah s.a.w.:

Maksudnya:

"Orang yang beriman dengan orang yang beriman yang lain laksana satu binaan, saling kuat-menguat di antara setengah dengan setengah yang lain."

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi:

Maksudnya:

"Kami mengasihi saudara kerana dia adalah saudara pada jalan Allah."

Di samping itu sikap mahabbah mesti dibuktikan dalam amalan dan penghayatan bukan sekadar teori semata-mata.

Al-Ta’aruf iaitu kenal mengenal daripada bab mufa’alah (daripada dua belah pihak) Salbi dan i~jabi (memberi dan menerima). Kenal yang benar-benar, tahu selok-belok tentang saudara kita, supaya kita membuat dan bertindak untuk mengarah sesuatu yang sesuai dengannya.

Rukun Kedua – Al-Tafahum ertinya bersefahaman

Al-Tafahum daripada bab mufa’alah juga, adalah menjadi tujuan usrah iaitu supaya membuatkan satu sikap, satu tindakan hasil daripada sama-sama faham, sama-sama beramal iaitu sama-sama menjalankan perintah Allah, tunduk kepada kebenaran, muhasabah diri, muhasabah sama-sama jama’ah dan disusuli dengan nasihat menasihati di antara saudara, (Ad-Dinul Nasihah). Awas jangan sama sekali nasihat menasihati ini menimbulkan apa-apa perasaan yang tidak senang kepada salah satu daripada yang lain, baik yang memberi atau yang menerima, cuba renungkan hadith di atas.

Rukun Ketiga – Al-Takaaful iaitu saling bantu membantu atau jamin menjamin

Rukun ini merupakan dasar membela nasib sesama sendiri, supaya jangan ada orang yang terbiar atau terlantar nasibnya tidak terbela, maksud rukun ini ialah anggota usrah hendaklah mengambil berat masalah-masalah yang dihadapi oleh saudaranya. Takaaful ini merupakan pancaran pekerti yang dilahirkan daripada keimanan, dan merupakan intisari dari ukhuwwah yang murni. Cuba saudara-saudara teliti sabda Rasulullah s.a.w.yang bermaksud :

"Sesungguhnya seseorang kamu pergi menunaikan sesuatu keperluan saudaranya lebih baik baginya daripada beriktikaf dimasjid aku ini selama sebulan."

Dan sabdanya lagi:

Maksudnya:

"Sesiapa yang telah memasukkan kegembiraan iaitu menghilangkan kesusahan dan kesukaran kepada keluarga muslim, maka Tuhan tidak melihat balasan kepadanya selain daripada syurga."

Ini gambaran besar atau kecilnya Al-Takaaful dalam Islam bagi rukun usrah ketiga.

TUGAS DAN KEWAJIPAN NAQIB DAN NAQIBAH USRAH

Naqib adalah bertanggungjawab menyempurnakan pencapaian anggota usrahnya kepada tiga-tiga tujuan asas di atas. Oleh yang demikian cubalah perhatikan arahan-arahan di bawah ini:

1. Pastikan anak buah saudara sekurang-kurangnya mempunyai sebuah Al-Quran dan terjemahannya dan memiliki kitab-kitab, buku-buku, nota-nota atau teks usrah dan pastikan mereka boleh membaca Al-Quran dengan betul.

2. Sistem muhasabah anak-anak buah dengan cara terbuka dihadapan Jamaah atau fardi amatlah perlu. Gunakan kebijaksanaan saudara dengan mengambil kira ( ) iaitu thap demi tahap.

3. Sekiranya majlis usrah perlukan makan minum, pastikan makan minum yang disediakan akan benar-benar ala kadar. Awasilah supaya majlis usrah tidak menjadi majlis jamu selera.

4. Kesempurnaan beribadat seperti sembahyang, puasa, zakat dan ibadat-ibadat nawafil semuanya menjadi tuntutan pertama jamaah kita. Pastikan anak buah anda benar-benar mengerti dan mengamalinya. Anjurkan sekali sekala ibadat nawafil jama’i seperti qiamuallail, puasa zakat harta dan lain-lain.

5. Mana-mana jamaah ada kelemahannya, gunakan kebijaksanaan dalam memilih tajuk usrah supaya dapat mengubati kelemahan yang wujud dalam diri anak buah anda dengan memilih tajuk yang sesuai dengan suasana anak buah anda, contohnya sekiranya usrah anda lemah dalam ikatan persaudaraan atau tidak cukup mesra maka jadikan tajuk usrah persaudaraan dan tuntutannya dalam Islam, dan sekiranya ada kelemahan dalam istiqamah maka jadikan tajuk usrah istiqamah dalam Islam, begitulah seterusnya.

6. Adalah menjadi tugas utama saudara mencungkil bakat-bakat yang terpendam dalam organisasi kita, mereka mempunyai kebolehan di dalam menulis kertas kerja dan mengajar, ceramah dan lain-lainnya mestilah diasah bakatnya di dalam usrah.

7. Anda mestilah mengalakkan anak buah anda membaca buku-buku ilmiah, pengetahuan termasuklah majalah-majalah, surat khabar, kertas kerja, kajian ilmiah dan lain-lainnya. Tugaskan mereka membuat ringkasan dalam usrah, khususnya buku-buku keluaran jamaah kita termasuklah kaset-kaset rakaman syarahan pimpinan parti.

8. Anggota usrah yang sedia ada hendaklah ditugaskan mengadakan kelompok-kelompok usrah yang baru, mereka ditugaskan memimpinnya. Anda hendaklah menjadi penyelia kepada kelompok-kelompok baru itu.

9. Di peringkat permulaan dinasihatkan supaya setiap usrah mempunyai kitab atau teks yang tertentu. Sekiranya perlu, jamaah hendaklah membeli kitab-kitab rujukan tersebut.

10. Usahakan sedaya upaya usrah mempunyai tabung, setiap kali berusrah hendaklah dipungut derma walaupun kadar yang paling sedikit.

11. Sekali sekala anjurkan perkelahan di tempat-tempat yang difikirkan munasabah seperti di tepi pantai di sungai, di pedalaman dan ziarah tempat-tempat bersejarah atau tokoh-tokoh jamaah kita khususnya ulamak-ulamak. Jadikan muhasabah ini suatu peluang mengenali rakan seperjuangan saudara dari dekat.

12. Adalah amat berguna sekiranya naqib mempunyai nota atau diari, khususnya mengenai anggota usrah. Diari ini mengandungi maklumat-maklumat yang membolehkan ketua saudara mengenali rakan-rakan seperjuangan saudara dan mengetahui kebolehan, keistimewaan kedudukan serta iltizam usrah saudara.

13. Naqib bertanggungjawab mengembang dan mengikuti perkembangan kemajuan saksiyyah anggota usrah.

PENUTUP

Kita sama-sama berharap agar aktiviti usrah sebagai salah satu method untuk memastikan kebangkitan semula Islam berlaku dapat berjalan sebaik mungkin. Apa yang diharapkan ialah semoga usaha yang kita sama-sama lakukan akan diteruskan oleh generasi selepas daripada kita. Ingatlah, generasi yang akan datang akan tercorak daripada hasil usaha kita!!!

Wallahu a'lam

Wednesday, February 25, 2004

10 Rukun Bai'ah

FAHAM

Maksudnya: Hendaklah kamu yakini bahawa
fikrah kita adalah fikrah Islam yang tulen dan hendaklah
difahamkannya kepada orang ramai seperti mana yang kita fahami
dalam lingkungan dua puluh usul yang amat ringkas.

1. Islam adalah satu sistem yang menyeluruh yang mengandungi semua
aspek kehidupan. Ia adalah daulah dan negara ataupun kerajaan dan
umat. Ia adalah akhlak dan kekuatan ataupun kasih sayang dan
keadilan. Ia adalah peradaban dan undang-undang ataupun keilmuan
dan hukum-hukum. Ia juga adalah material dan harta benda ataupun
kerja dan kekayaan, ia adalah jihad dan dakwah ataupun ketenteraan
dan fikrah. Begitu juga ia adalah akidah yang benar dan ibadat
yang sahih, kesemuanya adalah sama pengiktibarannya di sisi kita.

2. Al-Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah rujukan kepada
setiap muslim dalam mengetahui hukum-hukum Islam. Al-Quran
difahami dengan mengikut kaedah bahasa arab dengan tidak mengikut
sikap memberatkan dan menyempitkan. Kefahaman kepada sunnah yang
suci adalah dengan mengembalikannya kepada rijal-rijal hadis yang
thiqah.

3. Iman yang benar, ibadat yang sahih dan mujahadah mempunyai
cahaya dan kemanisan yang diberikan oleh Allah kepada hati-hati
hamba yang dikehendakiNya. Manakala ilham, lintasan hati, tilikan
dan tenungan adalah bukan dari dalil hukum syariah yang tidak
diberikan iktibar kecuali jika tidak bertembung dengan hukum dan
nas agama.

4. Dan setiap tangkal, pelindung, azimat, tilikan, jampi serapah
dan pengakuan mengetahui perkara ghaib adalah termasuk dalam
perkara mungkar yang wajib diperangi kecualilah jika ianya adalah
daripada ayat al-Quran dan tangkal yang sandarannya.

5. Pandangan Imam dan naibnya pada masalah yang tidak ada nas
putus padanya dan pada perkara yang mempunyai arah pandangan yang
berbagai hendaklah dipakai selagi mana ia tidak bertentangan
dengan kaedah syarak. Pandangan ini kadangkalanya berubah dengan
perubahan situasi, uruf dan adat. Asal dalam perkara ibadat adalah
mengabdikan diri tanpa berpaling kepada makna-maknanya sedangkan
asal dalam perkara adat, dilihat kepada rahsia-rahsia, hikmat dan
tujuannya.

6. Setiap orang boleh dipakai ataupun ditolak kata-katanya
melainkan kata-kata yang keluar dari orang yang dilindungi dari
dosa, Rasulullah s.a.w. Setiap perkara yang datang dari para
salafussoleh r.a yang bertepatan dengan kitab Allah dan sunah,
kita hendaklah menerimanya. Kalau tidak bertepatan dengan nas,
maka nas al-Quran dan sunah Rasulullah s.a.w adalah yang lebih
utama untuk diikuti. Tetapi kita tidak sekali-kali mengutuk dan
memburukkan seseorang dari mereka walaupun apa yang telah
diselisihkan mengenainya. Kita serahkan semuanya kepada niat
masing-masing kerana mereka telah bergantung kepada apa yang telah
mereka kerjakan.

7. Setiap muslim yang tidak sampai kepada martabat ijtihad dalam
mencari dalil hukum Islam yang furuk hendaklah mengikut kepada
pegangan salah seorang dari Imam-imam mazhab Islam. Menjadi elok
lagi kepadanya ketika mengikut mazhab itu jika ditambah dengan
usaha yang sedaya upaya untuk mengetahui dalil-dalilnya. Dia
hendaklah menerima segala petunjuk yang diserta dengan dalil,
ketika diyakini kesahihan dan kebolehan orang yang memberikan
petunjuk itu kepadanya. Dia juga hendaklah menyempurnakan
kekurangan ilmu yang ada pada dirinya sekiranya dia di kalangan
ahli ilmu sehinggalah dia sampai kepada peringkat Al-Nazar
(ijtihad hukum).

8. Perselisihan faham dalam perkara furuk fekah tidak boleh
menjadi sebab kepada berlakunya perpecahan di dalam agama, juga
janganlah ianya membawa kepada perbalahan, kemarahan antara satu
sama lain. Setiap mujtahid ada pahalanya. Tidak ada halangan jika
dilakukan pengkajian ilmiah yang adil dalam masalah yang
diperselisihkan ini yang dilakukan dalam naungan perasaan kasih
mengasihi kerana Allah, bantu membantu untuk sampai kepada hakikat
yang sebenarnya, dengan tidak membawa kepada perbahasan yang
dikeji dan perasaan taasub.

9. Melarutkan diri ke dalam masalah yang tidak membawa kepada amal
adalah antara takalluf (memberatkan) yang dilarang oleh syarak. Di
antara masalah seperti itu adalah seperti banyaknya cabang dalam
hukum-hukum yang tidak mungkin berlaku, larut dalam membahaskan
makna ayat al-Quran yang masih tidak diketahui oleh akal
pengetahuan dan perbincangan untuk melebihkan antara
sahabat-sahabat r.a dan pertentangan yang berlaku antara mereka.
Setiap dari sahabat ada kelebihan bersahabat dengan Rasulullah
s.a.w dan kesemuanya dibalas bergantung kepada niatnya.
Membincangkan perkara ini boleh membawa kepada perselisihan yang
buruk akibatnya.

10. Makrifat Allah Taala, tauhid kepadaNya, membersihkanNya adalah
akidah Islam yang paling mulia. Kita beriman dengan ayat dan hadis
sahih yang menceritakan sifat Allah dan apa perumpamaan yang layak
denganNya, kita beriman dengannya seperti mana datangnya ayat itu
tanpa takwil dan mencuaikan. Kita juga tidak mencampurkan diri
kita kepada perkara yang diperselisihkan oleh ulamak mengenai
perkara ini. Kita hanya mengikut apa yang diredhai oleh Rasulullah
s.a.w dan para sahabat baginda. Firman Allah yang bermaksud: "Dan
orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam
ilmu-ilmu ugama berkata: "Kami beriman kepadanya, semuanya itu
datangnya dari sisi Tuhan Kami" (Al-Imran).

11. Setiap perkara bid'aah dalam din Allah yang tidak ada asalnya
walaupun diperelokkan oleh manusia dengan nafsu mereka dengan
menambahkan ataupun mengurangkannya, adalah perkara kesesatan yang
wajib diperangi dan dihapuskan dengan cara yang terbaik yang tidak
membawa kepada merebaknya perkara yang lebih buruk dari itu.

12. Perkara bid'aah tambahan dan kurangan serta iltizam dengan
ibadat yang mutlak adalah antara masalah fekah yang masih
diperselisihkan. Setiap ulamak mempunyai pandangan yang
tersendiri. Tidak menjadi halangan jika kita mencari kebenaran
dengan dalil dan bukti.

13. Mencintai, menghormati dan memuji orang-orang yang soleh
kerana amalan kebaikan mereka adalah satu pendekatan diri kepada
Allah Taala. Wali-wali Allah inilah yang dimaksudkan oleh Allah
sebagai orang yang beriman dan mereka bertaqwa kepadaNya. Perkara
keramat berlaku kepada mereka dengan syarat yang syar'ie dengan
menganggap bahawa mereka telah diredhai oleh Allah dan mereka
tidak mempunyai kuasa memudaratkan atau memberikan manfaat diri
mereka sendiri di kala hidup atau mati mereka tambahan pula
memberikan perkara seperti itu kepada orang lain.

14. Menziarahi mana-mana kubur adalah perkara yang disyariatkan
tetapi dengan caranya yang muktabar. Namun begitu, meminta
pertolongan, memanggil orang mati (walaupun siapa dia), meminta
tunaikan hajatnya dengannya secara dekat ataupun jauh, bernazar
kepada mereka, menghiaskan dan menerangkan kubur mereka,
menyapunya, bersumpah dengannya selain dari Allah dan sebagainya
dari perkara yang bid'aah, kesemuanya itu adalah perkara yang
bid'aah yang merupakan dosa besar yang wajib diperangi. Janganlah
kita mentakwilkan perkara-perkara ini kerana kita hendaklah
menyekat daripada berlakunya perkara-perkara tersebut (Saddu
al-Zaraik).

15. Doa kepada Allah yang disertai dengan tawasul dengan orang
lain adalah masalah khilaf furuk dalam masalah cara berdoa dan ia
bukannya dari masalah akidah.

16. Uruf yang salah tidak akan menukarkan hakikat lafaz syariat
bahkan kita wajib memastikannya dari hudud makna yang
dimaksudkannya dan berhenti di situ. Begitu juga wajib kita
bebaskan diri kita dari tertipu dengan kata-kata dalam setiap
aspek kehidupan dan juga agama. Pengajaran diambil daripada apa
yang dinamakan dan bukannya dan nama itu sendiri.

17. Akidah adalah asas kepada amalan dan amalan hati adalah lebih
utama dari amalan anggota lain. Mencari kesempurnaan dalam amalan
keduanya adalah dianjurkan oleh syarak walaupun terdapat perbezaan
darjah anjuran ini.

l8. Islam telah membebaskan akal dan memberi galakkan supaya
memerhatikan bumi ini. Islam juga telah mengangkat taraf ilmu dan
ulamak dan mengalu-alukan apa yang baik dan berfaedah dalam setiap
perkara. `Hikmat itu adalah perkara yang hilang dari mukminin dan
sekiranya dia menjumpainya, dialah yang paling berhak dengannya.'

19. Kadang-kala setiap pandangan syarak dan pandangan akal
menyelusup ke dalam perkara yang tidak ada pada pandangan yang
kedua tetapi keduanya ini tidak akan berselisih dalam perkara yang
pasti (qat'ie). Hakikat ilmiah yang sahih tidak akan bertembung
dengan kaedah syarak yang tetap. Perkara yang dzan (diragui)
darinya akan ditakwilkan agar bertepatan dengan perkara yang
qat'ie. Jika keduanya adalah perkara yang `dzan', maka pandangan
syarak adalah lebih utama untuk dipakai dan pandangan akal ketika
itu hanyalah untuk memastikannya sahaja ataupun dihapuskan terus.

20. Kita tidak akan mengkufurkan orang muslim yang mengikrarkan
dua kalimah syahadah, beramal dengan tuntutannya dan mengerjakan
fardhu-fardhunya, semata kerana pandangan ataupun maksiat yang
dilakukan kecualilah jika dia mengakui dengan perkataan kufur,
mengingkar perkara yang maklum dari asas yang darurat dalam agama,
ataupun mendustakan al-Quran yang jelas, atau mentafsirkannya
dengan tafsiran yang ditafsirkan sebagai kufur oleh gaya bahasa
arab, ataupun beramal dengan amalan yang tidak boleh ditakwil lagi
selain dari kufur.

Jika seorang akh itu mengetahui dinnya dengan usul-usul ini,
ketika itu dia telah mengetahui apakah makna yang dimaksudkan oleh
slogan abadinya iaitu `Al-Quran Perlembagaan Kami dan Rasul Ikutan
Kami'.

IKHLAS

Maksudnya: Bahawa seorang saudara muslim itu
menujukan segala perkataan, amalan dan jihadnya keseluruhannya
kepada Allah, mencari keredhaan dan kebaikan balasanNya, dengan
tidak melihat keuntungan, gaya, pangkat, gelaran, kemajuan ataupun
kemunduran. Dengan itu dia menjadi seorang tentera kepada fikrah
dan akidah dan bukannya tentera satu tujuan atau manfaat yang
tertentu. Allah telah berfirman yang bermaksud: "Katakanlah bahawa
sembahyangku, ibadatku, kehidupanku dan kematianku hanyalah kepada
Allah tuhan sekelian alam dan dengan itulah aku diperintah" (Surah
al-An'aam). Dengan itu juga seorang akh muslim itu dapat memahami
makna slogan abadinya iaitu: "Allah Matlamat Kami". Allahuakbar,
kepada Allah segala pujian.

AMAL

Maksudnya: Natijah dari ilmu dan ikhlas. Firman Allah
yang bermaksud: "Dan katakanlah (wahai Muhammad): "Beramallah
kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman akan
melihat apa yang kamu amalkan. Dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) Yang Mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata,
maka Dia akan memberitahu kepada kamu apa yang kamu telah
kerjakan" (Surah al-Taubah).

Peringkat amal yang diperlukan dari seorang akh yang benar
keimanannya itu adalah:

1. Memperbaiki dirinya sendiri sehingga menjadi seorang yang kuat
fizikal, berakhlak mulia, berpengetahuan tinggi, berupaya untuk
berdikari, selamat akidah, ibadat yang sahih, berjihad dengan
dirinya sendiri, menjaga masanya, teratur dalam segala urusannya
dan bermanfaat kepada selain darinya. Itulah kewajipan setiap
orang akh.

2. Membentuk rumah tangga muslim dengan membawa ahli rumahnya
menghormati fikrahnya, memelihara adab-adab Islam dalam setiap
urusan kehidupan, tepat dalam memilih isteri, mengikat isterinya
pada hak-hak dan kewajipannya, elok tarbiyah anak-anak dan
pembantu dan membesarkan mereka menurut dasar-dasar Islam. Itulah
juga kewajipan setiap orang akh.

3. Memberi petunjuk kepada masyarakat dengan menyebarkan dakwah
kebaikan, memerangi perkara keji dan mungkar, menggalakkan sifat
yang mulia, menyeru kepada kebaikan, bersegera ke arah kebaikan,
membawa pandangan umum kepada fikrah Islam dan mencelup kehidupan
umum dengan celupan dakwah Islam. Itu adalah kewajipan jemaah
sebagai pertubuhan yang beramal.

4. Membebaskan negara dari penjajahan kuasa asing bukan Islam sama
ada penjajahan itu berbentuk politik, ekonomi ataupun rohani.

5. Memperbaiki kerajaan sehingga menjadi kerajaan Islam yang
sebenarnya. Dengan itu ia dapat menunaikan tugasnya sebagai
pembantu kepada umat, buruh dan pekerja untuk kepentingannya.
Kerajaan Islam adalah kerajaan di mana anggotanya adalah muslimin
yang menunaikan fardhu-fardhu Islam dan tidak melakukan maksiat
dan ia menjalankan semua hukum dan ajaran Islam.

Tidak menjadi masalah jika kerajaan ini meminta bantuan dengan
orang yang bukan Islam ketika darurat tetapi bukan dalam jawatan
pemerintahan umum. Tidak menjadi masalah mengenai bentuk ataupun
jenis pertolongan yang diminta selagi mana ia adalah bertepatan
dengan kaedah umum dalam dasar pemerintahan Islam.

Di antara sifat kerajaan Islam adalah: Merasakan tanggung jawab
yang diletakkan kepadanya, kasihan belas kepada rakyat, berlaku
adil di kalangan manusia, cermat dalam perbelanjaan wang umum dan
berekonomi padanya.

Antara kewajipannya adalah menjaga keamanan, melaksanakan
undang-undang, menyebarkan ajaran Islam, melengkapkan kekuatan,
menjaga kesihatan, menjaga kepentingan umum, menyuburkan harta
benda dan menjaga wang negara, menguatkan akhlak yang mulia dan
menyebarkan dakwah Islamiyyah,

Antara haknya pula ketika ia telah menjalankan kewajipannya itu
adalah: Diberikan ketundukan dan kepatuhan, dibantu dengan diri
dan harta. Jika kerajaan ini tidak menjalankan kewajipannya dengan
sempurna maka ia mesti diberikan nasihat dan petunjuk, kemudiannya
dipecat dan dijauhkan jika ia tidak mengikut nasihat kerana tidak
ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada yang
menciptanya.

6. Mengembalikan kehebatan antarabangsa kepada umat Islam dengan
membebaskan negara-negara Islam yang dijajah, menghidupkan
keagungannya, memperdekatkan peradabannya, menghimpunkan
kesatuannya sehingga membawa kepada kembalinya Khilafah Islamiyyah
yang telah hilang, dan mengembalikan kesatuan yang
diharap-harapkan.

7. Membentuk kuasa besar dunia dengan menyebarkan dakwah Islam
kepada setiap pelusuknya sehingga tidak ada lagi di sana fitnah
dan agama itu hanyalah untuk Allah. Allah Taala enggan kecuali
untuk disempurnakan NurNya (Maksud firman Allah).

Keempat-empat peringkat yang terakhir ini adalah wajib kepada
jemaah yang bersatu dan juga kepada setiap akh dengan sifatnya
sebagai anggota dalam jemaah ini. Alangkah beratnya tanggung jawab
dan alangkah besarnya misi ini. Manusia lain akan memandangnya
sebagai khayalan sementara akh muslim memandangnya sebagai hakikat
yang ingin dicapai dan dia tidak akan berputus asa. Bagi kita,
Allah adalah harapan utama kepada kita seperti mana yang
dimaksudkan oleh firman Allah dalam surah Yusuf:
"Dan Allah Maha Kuasa melakukan segala perkara yang telah
ditetapkanNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

JIHAD

Maksudnya: Ia adalah satu fardhu yang
berkuatkuasa sehingga hari kiamat. Begitu juga maksud dari sabda
Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Sesiapa yang mati dan tidak
berperang dan tidak berniat hatinya untuk berperang maka dia mati
dalam keadaan mati jahiliyyah." Peringkat pertamanya adalah
mengingkari dari hati, peringkat tertingginya adalah berjihad di
jalan Allah. Antara keduanya: Jihad lidah, pena, tangan dan
perkataan yang benar kepada pemerintah yang zalim. Dakwah ini
tidak akan hidup kecuali dengan jihad. Setanding dengan ketinggian
dan keluasan ufuk dakwah ini, begitu jugalah besarnya kelebihan
jihad di jalan dakwah, mahalnya harga yang dipinta untuk
mendokongnya, besarnya balasan yang akan diberikan kepada
orang-orang yang beramal. "Berjihadlah di jalan Allah dengan
sebenar-benar jihad."

Dengan itu kamu akan memahami apakah yang dimaksudkan dengan
slogan abadi kamu: `Jihad Adalah Jalan Kami'.

TADHIYYAH

Maksudnya(pengorbanan): Mengorbankan
harta, waktu, kehidupan dan segalanya untuk mencapai matlamat yang
ingin dicapai. Tidak ada jihad di dunia ini yang tidak disertai
dengan pengorbanan. Jangan sekali-kali unsur pengorbanan ini
digugur dalam jalan fikrah ini kerana sesungguhnya di sana ada
balasan dan pahala yang besar dan indah untuknya. Sesiapa yang
berhenti dari memberikan pengorbanan maka dia adalah berdosa.
"Sesungguhnya Allah telah membeli nyawa dan harta dari mukminin."
"Katakan bahawa jika sekiranya ayah-ayah kamu dan anak-anak
kamu..." "Demikian itu kerana mereka tidak ditimpa dahaga dan
kekurangan..." "Jika kamu taat maka Allah akan memberikan kepadamu
balasan yang baik"

Dengan demikian kamu akan memahami makna slogan abadimu: `Mati
Syahid Di Jalan Allah adalah Setinggi Cita-cita'.

TAAT

Maksudnya: Mematuhi perintah dan
melaksanakannya dengan segera sama ada dalam keadaan kesusahan
ataupun kesenangan, perkara yang disukai ataupun dibenci. Ini
adalah kerana peringkat dakwah ini ada tiga peringkat:

1. Peringkat Taarif iaitu pengenalan. Ini merupakan peringkat
menyebarkan fikrah secara umum di kalangan manusia. Sistem dakwah
dalam peringkat ini adalah seperti sistem sebuah organisasi.
Peranannya adalah bekerja ke arah kepentingan umum. Wasilahnya
adalah cara nasihat menasihati, memberikan petunjuk dan di ketika
yang lain menubuhkan beberapa pertubuhan yang berfaedah dan
lain-lain wasilah yang praktikal. Setiap cabang dari Ikhwan akan
berfungsi di peringkat ini untuk menghidupkan dakwah dan diaturkan
oleh undang-undang asas yang diterangkan oleh perutusan-perutusan
Ikhwan dan majalah-majalahnya. Dakwah pada peringkat ini adalah
dakwah umum.

Setiap orang yang berkeinginan untuk memberikan sahamnya akan
berhubung dengan jemaah dalam setiap operasinya dan dia akan
berjanji untuk memelihara dasar-dasar jemaah. Taat yang mutlak
tidak lagi diwajibkan pada peringkat ini seperti wajibnya
menghormati peraturan dan dasar-dasar umum jemaah.

2. Peringkat Takwin (pembentukan). Ini dilakukan dengan memilih
unsur-unsur yang layak untuk menanggung bebanan jihad dan juga
menyatukan antara mereka. Sistem dakwah pada peringkat ini adalah
secara sufi di sudut rohani, sistem ketenteraan di sudut
praktikalnya. Slogan pada dua perkara ini (amal dan taat) adalah
dengan tidak berbelah bahagi, tidak menarik balik, tidak ragu dan
tidak merasa tertekan. Katibah-katibah Ikhwan pada peringkat ini
akan dibentuk dan akan diaturkan oleh perutusan dasar yang lalu
dan juga perutusan ini.

Dakwah pada peringkat ini adalah berbentuk dakwah khas yang hanya
akan bergabung dengannya orang yang mempunyai kesediaan sebenar
untuk menanggung bebanan jihad yang panjang yang banyak cabaran.
Petanda awal kepada kesediaan ini adalah taat yang mutlak dan
sempurna.


3. Peringkat Tanfiz (Pelaksanaan). Dakwah pada peringkat ini
adalah peringkat jihad yang tidak ada tolak ansur di dalamnya,
amalan yang berterusan dan usaha untuk sampai kepada matlamatnya,
cabaran dan bala yang hanya akan dapat disabari oleh orang yang
benar. Tidak ada yang mengimbangi peringkat ini kecuali dengan
taat yang sempurna juga. Atas perkara inilah generasi Ikhwan yang
pertama telah berbai'ah pada hari 5 Rabiul Awal 1359 hijrah.

THABAT

Maksud thabat(keteguhan): Seorang akh itu
sentiasa beramal dan berjihad dalam mencapai matlamatnya walaupun
selama mana masa yang akan dilalui sehinggalah dia berjumpa dengan
Allah sedang dia sudah mendapat satu antara dua perkara yang elok
untuknya iaitu dapat mencapai matlamatnya ataupun mati syahid pada
akhirnya. Firman Allah yang bermaksud: "Di antara orang-orang yang
beriman, ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan
kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur (syahid), dan
di antara mereka ada yang menunggu giliran dan mereka tidak
mengubah janjinya) sedikitpun" (Al-Ahzab). Pada kita, masa adalah
sebahagian dari unsur rawatan. Jalan ini adalah jalan yang
panjang, peringkat yang berjauhan antara satu sama lain dan banyak
cabaran yang akan ditempuhi, namun begitu jalan ini sahajalah yang
akan menepati maksud di samping balasan dan pahala yang banyak dan
indah.

Itu adalah kerana setiap wasilah kita yang enam itu memerlukan
persediaan yang elok, menunggu peluang yang mendatang dan
ketelitian dalam pelaksanaan. Semuanya itu bergantung kepada
masanya. Firman Allah yang bermaksud: "Mereka berkata kepadanya:
Bilakah kemenangan itu, katakanlah kepada mereka semoga kemenangan
itu adalah perkara yang hampir berlaku" (Al-Israk).

TAJARRUD

Maksudku: Kamu mengikhlaskan diri kamu
untuk fikrah kamu sahaja dan tidak kepada lain-lain dasar dan
peribadi. Ini adalah kerana fikrah yang kamu bawa adalah fikrah
yang paling mulia, paling global dan tinggi. "Celupan Allah
(celupan keimanan yang sebenar kepada Allah yang telah sebati
dalam jiwa orang-orang mukmin). Dan siapakah yang lebih baik
celupannya daripada Allah?" (Al-Baqarah). "Sesungguhnya telah ada
bagi kamu contoh teladan yang baik pada Nabi Ibrahim dan mereka
yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
"Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan apa yang kamu
sembah selain Allah, kami mengingkari kamu dan telah jelas antara
kami dengan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sehingga
kamu beriman kepada Allah sahaja..." (al-Mumtahanah). Di sisi
seorang akh itu, manusia adalah terdiri dari enam golongan: Muslim
mujahid, muslim yang menganggur, muslim yang berdosa, zimmi yang
mempunyai perjanjian, tidak berpihak kepada mana-mana pihak dan
kafir yang memerangi Islam. Setiap golongan ini ada hukum
interaksi yang khas dengannya di dalam pertimbangan Islam. Dalam
hudud pembahagian inilah, seorang peribadi ataupun sesebuah
pertubuhan dipertimbangkan sama ada untuk diberikan perkongsian
ataupun permusuhan.

UKHUWWAH

Ukhuwah ialah Persaudaraan : Hati-hati dan ruh
terikat dengan ikatan akidah. Ikatan akidah adalah ikatan yang
paling kukuh dan mahal. Persaudaraan sebenarnya adalah
persaudaraan iman dan perpecahan itu adalah saudara kepada
kekufuran. Kekuatan yang pertama kepada kita adalah kekuatan
kesatuan, tidak ada kesatuan tanpa kasih sayang. Kasih sayang yang
paling rendah adalah berlapang dada dan yang paling tinggi ialah
martabat `ithar' (melebihkan saudaranya dari dirinya sendiri).
Firman Allah yang bermaksud: "Dan sesiapa yang menjaga dirinya
dari kebakhilan, maka mereka itulah orang-orang yang berjaya"
(Al-Hasyr).

Akh yang benar dengan fikrahnya akan melihat saudaranya lebih
utama untuk diberikan perhatian dari dirinya sendiri kerana
kalaulah mereka tidak bersama dengannya pasti mereka akan bersama
dengan selain darinya. Sesungguhnya serigala akan membaham kambing
yang kesesatan. Mukmin dengan mukmin yang lain adalah seperti
sebuah bangunan yang menguatkan antara satu sama lain. "Mukminin
dan mukminat sebahagian mereka adalah pemimpin kepada sebahagian
yang lain." Inilah situasi yang perlu kita wujudkan.

THIQAH

Maksudnya: Seorang jundi itu yakin dan tenang
dengan kebolehan, keikhlasan pemimpinnya dengan keyakinan yang
mendalam yang akan melahirkan perasaan kasih, menghargai dan taat.
Firman Allah yang bermaksud: "Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)
mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan kamu
hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka,
kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka keberatan dari
apa yang kamu hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan
sepenuhnya" (An-Nisa'). Pimpinan adalah sebahagian dari dakwah dan
tidak ada dakwah tanpa pimpinan. Keyakinan yang silih berganti
antara pimpinan dengan tenteranya akan mencernakan kekuatan sistem
jemaah, mengukuhkan strateginya, kejayaannya dalam mencapai
matlamatnya dan juga kejayaannya mengatasi segala cabaran dan
kesusahan yang merintang perjalanan jemaah. "Ketaatan dan
perkataan yang baik adalah lebih utama kepada mereka..." Pimpinan
dalam dakwah Ikhwanul Muslimin mempunyai hak seperti hak bapa
kepada anaknya di sudut hubungan ruhi, hak guru dalam kepentingan
akademik, hak syeikh dalam tarbiyah ruhiyyah, hak pimpinan dalam
hukum politik umum dakwah. Dakwah kita adalah himpunan dari
makna-makna ini. Thiqah kepada pimpinan adalah segalanya dalam
usaha menjayakan dakwah ini. Oleh itu seorang akh itu hendaklah
bertanya kepada dirinya sendiri soalan-soalan ini untuk mengetahui
sejauh mana thiqahnya kepada pimpinannya:

1. Adakah dia pernah mengenali pimpinannya sebelum itu dan
mengetahui keadaan hidupnya?

2. Adakah dia yakin dengan kebolehan dan keikhlasannya?

3. Adakah dia bersedia untuk menganggap setiap arahan yang
diberikan kepadanya dari pimpinannya selain dari perkara maksiat,
sebagai arahan yang putus dan muktamad yang tidak ada perbahasan,
keraguan, tidak puas hati dan kritik selepasnya?, di samping
memberikan nasihat dan petunjuk kepada perkara yang benar?

4. Adakah dia bersedia untuk menganggap pandangannya adalah salah
dan pandangan pimpinannya adalah yang benar, jika berlaku
pertembungan arahan pimpinan dengan apa yang diketahuinya dalam
masalah ijtihadiyah yang tidak ada nas syarak?

5. Adakah dia bersedia untuk meletakkan keadaan hidupnya di bawah
kepentingan dakwah? Adakah pada pandangannya, pimpinan memiliki
haknya dalam menentukan antara kepentingan individunya dengan
kepentingan dakwah secara umum?

Dengan menjawab soalan seperti ini, seorang akh itu dapat mengukur
sejauh mana hubungannya dengan pimpinannya dan keyakinannya
kepadanya. Ini adalah kerana hati-hati manusia adalah berada di
tangan Allah dan Allah membolak balikkannya mengikut apa yang Dia
kehendaki. Firman Allah yang bermaksud: "Kalaulah kamu belanjakan
segala yang ada di bumi, nescaya kamu tidak dapat juga
menyatu-padukan di antara hati-hati mereka, akan tetapi Allah
telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya Ia
Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana" (Al-Anfaal).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...